Selasa, 07 Juli 2015

FF JiKook BTS: Wae hyung?

WAE HYUNG?
Jungkook’s Diary
.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap seperti ini. Tapi hyung... tidak bisakah kau kembali seperti dulu?
.
Menjadi seorang idol memang bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi, hal itu juga merupakan sesuatu yang menyenangkan. Karena dengan menjadi idol dalam sebuah group yang bernama BTS ini, aku bisa mendengar teriakkan setiap orang saat memanggil namaku. Aku senang saat para army berteriak, memberi support, atau hal apa pun yang mereka lakukan demi aku dan para hyungdeul. Dan sebagai balasannya, kami-anggota BTS-juga harus memberikan yang terbaik kepada para army. Termasuk... memberikan fan service sesuai dengan permintaan mereka.
Seperti biasa, aku duduk di samping Jimin hyung. Sedang di samping kiriku ada Suga hyung. Wahh... fans meeting kali ini benar-benar menakjubkan. Aku rasa, semakin hari army semakin bertambah, ya?
Aku menyalami setiap fans, memberikan senyuman terbaikku, menanyakan nama mereka, menerima hadiah dari mereka, dan membubuhkan tanda tangan di atas cover album terbaru kami dengan hits yang-menurutku hebat-, yaitu lagu I Need U. Para Army juga sesekali memintaku untuk melakukan aegyo. Ugh, aku tidak bisa melakukannya! Tolong jangan suruh aku melakukan hal itu lagi, itu menggelikan! (Walaupun sebenarnya aku selalu melakukan aegyo tanpa aku sadari). Dan inilah sesuatu yang paling aku suka saat fans meeting. Selca! Tak jarang banyak army yang memintaku untuk berselca dengan... ehm... Jimin hyung. Oh ayolah, aku akan dengan senang hati menuruti permintaan tersebut.
“Jungkook oppa, selca bersama Jimin oppa juseyoo~~” ujar seorang Army. Aku segera melirik ke kanan, tempat di mana Jimin hyung duduk.
“Hyung, kajja!” ujarku ceria, aku tak ingin mengecewakan army... dan tak ingin mengecewakan perasaanku sendiri.
“Mwo?” tanya Jimin hyung dengan ekspresi bingung. Oh, pantas saja, dia baru selesai mengobrol dengan Namjoon hyung yang duduk di sebelahnya.
“Army meminta kita untuk selca bersama,” jawabku lagi. Tak lupa, aku masih memasang senyuman terbaikku-untuk army.
“Ah, baiklah...” jawab Jimin hyung menyetujui. Lengan kirinya langsung merangkul bahuku, sedang jemari kanannya membentuk V sign. Aku pun tersenyum lebar sambil melakukan V sign dengan jemari kiriku. Dan seperti biasa, jantungku berdegup tak karuan. Oh God.
JEPRET! *ceritanya difoto sama army*
“MinYoon couple!!! Kajja selca juseyoo~~!” tiba-tiba terdengar teriakkan lagi.
Apa? MinYoon couple? Aku tidak salah dengar kan?
Jimin hyung dengan cengiran khasnya langsung melepaskan rangkulannya dari bahuku. Dan ia buru-buru bangkit dari kursi duduknya dan langsung mengalungkan kedua tangannya di bahu Suga hyung. Sontak, semua MinYoon shipper langsung berteriak histeris kala itu. Dan aku? Aku hanya bisa tersenyum, meskipun aku sama-sama ingin berteriak, memaki perasaanku yang seperti ini.
Wae hyung...? Wae?
***
“Jungkook-ah, kau tidak akan makan?” Jin hyung menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarku. Mataku yang sedari tadi menatap layar laptop pun harus beralih barang sejenak.
“Ani hyung. Aku tidak lapar,” jawabku pelan lalu mengulaskan seutas senyum. Jin hyung pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu kembali menghilang dari balik pintu.
Hhh... aku kembali menatap monitor laptopku. Aku baru saja melihat-lihat fanspage atau forum yang dibuat army di berbagai macam sosmed. Di fanspage tersebut, para army terbiasa memposting apa pun tentang kami. Fakta, berita, bahkan foto-foto yang kami upload di twitter pun mereka upload lagi di fanspage tersebut. Tapi... ada beberapa foto yang membuatku kesal sampai kehilangan nafsu makan.
Pertama: foto Jimin hyung dan Suga hyung. Ugh, mereka terlihat manis saat bersama.
Kedua: foto saat Jimin hyung memeluk V hyung. Chh... kenapa ekspresinya seperti itu?
Dan ketiga: foto di mana Jimin hyung dan Hopie hyung berpelukan. Arrrgghhhh.... haruskah mereka melakukan itu semua?
Aku segera mengclose halaman fanspage tersebut dan mengembalikan laptopku dalam tampilan desktop. Ah, benar-benar merusak mood! Kenapa army tega melakukannya, eoh? Kenapa tiba-tiba mereka mengcouplekan Jimin hyung dengan semua orang? Wae? MinYoon couple, Vmin couple, JinMin couple, HoMin(?) couple, NamMin(?) couple... Apakah KookMin couple sudah tamat di mata mereka? Tidakkah mereka tahu bahwa aku adalah maknae yang paling dicintainya?
Argh! Kenapa kau jadi sensitif seperti ini Jungkook-ssi? Apa salahnya dengan couple-couplean seperti itu? Army kan hanya bersenang-senang! Dan juga, apa yang kau pikirkan tadi? Kau adalah maknae yang paling dicintainya? Dicintainyaaaa?
“Mm... ya. Mungkin dahulu,” gumamku pelan. Aku benar-benar tidak tahu kenapa perasaanku jadi seperti ini. Mataku terpejam. Aku tidak ingin menangis lagi. Seberkas memori tentang Jimin hyung kembali berputar di kepalaku. Tidak Jungkook! Kenapa kau harus mengingatnya lagi?
“Jungkookie is mine...”
“If i have a holiday, i’ll date with Jungkook...”
“Live together with me...!”
“Saengilchukkae Jeon Jeonggukie. Please accept my love...”
“Annyeong haseyo. I’m Maknae(Jungkook) lover...”
Q: Jika kau menjadi seorang gadis, kau ingin berpacaran dengan siapa?
JM: I choose Jungkook...
“I’ll not go to the island without occupants, not with others. Just with you, Jungkook...”
***
“Jungkook-ah, wae geurae?”
Aku menolehkan kepalaku ke arah V hyung yang duduk di sebelahku. Kami sedang berada di dalam van. Kami baru saja pulang setelah tampil di sebuah acara musik ternama di Korea.
“Hm? Nan gwaenchana hyung,” jawabku pelan, sambil tersenyum simpul. Aku kembali menatap bahu jalan, sedangkan member lain masih asyik dengan canda dan tawaan mereka. Aku benar-benar tidak mood untuk bercanda. Sungguh!
“Kookie-ah, kau kenapa? Tak biasanya kau jadi pendiam seperti ini!” ujar J-Hope hyung yang duduk di belakangku.
“Aku baik-baik saja, hyung. Aku hanya lelah.” Kali ini aku menjawab tanpa memalingkan pandanganku sedikit pun dari sisi jalan.
“Oh, beristirahatlah!” seru J-Hope hyung lalu kembali bercanda dengan member lain. Sesekali terdengar tawaan mengganggu yang menusuk telingaku. Tawaan V hyung, RapMon hyung, Jin hyung, Suga hyung, J-Hope hyung, dan... Jimin hyung! Ia tertawa dengan suara paling keras dari yang lainnya. Hhh... apakah dia tidak memedulikanku? Apakah dia tidak menyadari perubahan sikapku yang akhir-akhir ini lebih banyak diam? Ah... sudahlah Jungkook! Lebih baik kau tidur! Tapi aku tidak bisa memungkiri rasa penasaranku. Kenapa Jimin hyung jadi seperti itu? Kenapa dia tak memerdulikanku?
Wae hyung?
.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur di dalam van. Kurasa, perjalanan menuju dorm kami masih jauh. Dan ah, ada sesuatu yang mengusikku! Apakah ada yang menurunkan suhunya? Apakah ini sudah musim salju? Kenapa aku merasa kedinginan dan... menggigil?
Samar-samar, kudengar suara berisik para member yang entah sedang membicarakan apa. Tapi beberapa detik kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang menempel di dahiku. Sebuah tangan! Lebih tepatnya... telapak tangan. Tapi, milik siapa?
“Yak, dia deman! Jungkook demam!”
Kali ini pendengaranku kembali memulih. Suara V hyung. Mataku yang belum terbuka dengan sempurna menangkap sosoknya yang terlihat panik saat mengatakan hal tersebut. Benarkah ini? Apakah aku demam? Ah, mungkin dia benar, karena sekarang aku merasakan pusing yang menyerang kepalaku. Pandanganku kembali kabur. Dan saat ini yang bisa kurasakan adalah hanya hawa dingin yang menyelimuti. Samar-samar, kudengar sebuah suara yang tak kalah paniknya.
“PD-nim, cepat pergi ke apotek! Kita harus membeli bye bye fever(?) untuk uri Jungkookie! Ppali... dia terkena demam...!”
Dan setelah suara itu berakhir, berakhir pulalah kesadaranku.
***
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Argh, rasa pening yang menyerang kepalaku tadi kini sudah agak mendingan. Dan sekarang, aku sudah tidak merasa kedinginan lagi. Perlahan tapi pasti, kelopak mataku mulai terbuka dengan sempurna. Sesaat, aku masih termenung. Dan sedetik berikutnya, aku menyadari satu hal. Aku sudah berada di dalam kamar!
“Kau sudah merasa baikan Kookie-ah?”
Aku terhenyak dan langsung mengalihkan pandanganku ke samping. Jimin hyung? Kenapa dia berada di sini?
Jimin hyung menempelkan telapak tangannya di dahiku. “Syukurlah, demammu sudah turun. Semua member sangat mengkhawatirkanmu Kookie-ya...”
Aku mendengar sebuah nada ketulusan di sana. Nada ketulusan yang sudah lama tidak kudengar. Dan sorot mata itu, sorot mata saat Jimin hyung mengkhawatirkanku...
“Apa kau mau makan? Jin hyung sudah membuatkan bubur untukmu. Kudengar dari kemarin kau tidak makan Kookie... Apa kau sedang diet?”
Pertanyaan Jimin hyung tersebut membuat sudut bibirku terangkat. Ah, aku benar-benar rindu dengan perhatiannya ini.
“Aku tidak apa-apa hyung,” jawabku pelan sembari menyuguhkan seulas senyum. Melihat raut wajahnya yang masih khawatir, aku pun meraih telapak tangannya yang berada di keningku, dan menggenggamnya dengan erat. “Tolong temani aku di sini. Itu sudah cukup,” lanjutku lagi.
Kulihat bibir Jimin hyung menyunggingkan senyuman. Ia mengeratkan genggaman tanganku dalam telapak tangannya. Lalu telapak tangannya yang lain mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.
“Tidurlah. Aku akan selalu ada di sisimu,” bisiknya. Aku pun hanya bisa mengangguk dan kembali memejamkan mata. Aku hanya berharap, apa yang sedang aku alami ini bukanlah sebuah mimpi. Dan jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku, Tuhan. Karena aku ingin selalu bersamanya, dan selalu ada di sampingnya...
***
Morning light! Aku memicingkan mataku saat cahaya mentari menggelitik dari balik tirai. Ah, aku merasa baik sekarang. Tapi ada satu hal yang kurang. Aku lapar! Suara gemuruh dari dalam perutku menandakan bahwa aku harus segera mengisinya. Tapi aku tidak mungkin turun ke meja makan dengan penampilan kucel dan bau obat seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu. Dan soal Jimin hyung...? Apakah dia benar-benar menemaniku tadi malam? Tapi, kenapa dia tidak ada di sini? Apakah dia sudah bangun dari tadi? Atau mungkin... kejadian kemarin malam itu hanya mimpi? Ah... molla! Kenapa kau terus memikirkannya Jeon Jungkook? Wae?
***
“Jimin hyung?” aku hampir terloncat kaget saat melihat Jimin hyung yang duduk berselonjor di atas tempat tidurku. Laptopku berada di pangkuannya. Aku yang baru keluar dari kamar mandi tentu saja sangat terkejut dengan kehadiran sesosok makhluk tak berbentuk ciptaan Tuhan yang sangat aku kagumi itu. Untung sehabis mandi tadi aku langsung memakai pakaian. Coba kalau aku keluar kamar mandi dalam keadaan naked? Apa yang akan terjadi? Oh Tuhan, aku bisa mati mematung saat itu juga.
“H-hai Jungkookie!” sapa Jimin hyung dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya. Ia meletakkan laptopku di pinggirnya lalu meraih nampan berisikan sebuah mangkok di atas meja nakas. “Aku membawakanmu bubur. Tadi semua member sudah mengecek ke sini, tapi kau masih tidur. Dan saat aku kemari, ternyata kau sedang mandi,” tuturnya panjang lebar.
Aku menggosok-gosok rambutku dengan handuk kecil yang tersampir di bahu. “Ah, mianhae hyung. Aku sudah membuat kalian khawatir.”
“Gwaenchana... Aku senang kau sudah membaik. Ige, ayo makan buburnya!”
“Ah, baiklah.”
Aku pun duduk di samping Jimin hyung dan menatap bubur dengan sorotan berbinar. Aku benar-benar lapar! Dan yang membuatku terkejut adalah, Jimin hyung tiba-tiba menyodorkan sesendok bubur ke arahku.
“Buka mulutmu... aaa...” ujarnya lucu. Haha, aku tak bisa menyembunyikan senyumanku. Akhirnya aku pun menerima suapan dari Jimin hyung. Dan ketika dia hendak menyuapkan sesendok lagi, aku buru-buru meraih sendok dan mangkuk bubur di tangannya. Aku tidak mau pipiku memerah karena perlakuannya u,u
“Aku bukan anak kecil, hyung!” ujarku sambil mempoutkan bibir. “Aku bisa makan sendiri!” lanjutku lagi lalu meneruskan acara memakan buburku. Ah, it’s delicious! Jin hyung memang sangat pintar memasak! Kenapa dia tidak menjadi koki saja, ya?
“Arra,” ujar Jimin hyung, “makanlah dengan baik, ne! Kau kelihatan lapar sekali!” lanjutnya sambil sesekali membetulkan surai hitam yang jatuh menutupi dahiku.
Aku hanya tersenyum lebar sambil terus memakan buburku. Gomawo Jimin hyung... I think you are already back...
...
Jimin hyung memberikanku segelas air putih saat aku selesai memakan bubur. Aku pun dengan senang hati menerimanya dan menyimpan mangkuk kosong tersebut ke atas nakas.
“Gomawo hyung,” ujarku ceria setelah selesai meneguk air. Jimin hyung hanya tersenyum lalu meraih gelas dari tanganku dan meletakkannya kembali di atas nakas.
“Jungkook-ah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.”
“Wae?” tanyaku sambil membulatkan mata.
“Tadi aku memainkan laptopmu-”
“Lalu?” tanyaku lagi.
“Aku melihat folder-foldermu...,” lanjutnya. Ish, Jimin hyung bertele-tele. Aku pun hanya memasang raut penasaranku.
“...dan... aku melihat folder dengan nama... Jungkook’s diary.”
“Apa?” Suaraku terdengar begitu tercekat saat mendengar penuturan Jimin hyung. Bagaimana tidak? Jungkook’s diary... folderku... itu folder isi hatiku...!
“Ahaha, benarkah? Tapi aku yakin kau tidak akan bisa membukanya, aku sudah memproteknya dengan password!” jawabku sambil tertawa garing.
“Tidak,” sela Jimin hyung cepat. “Aku membukanya!”
“M-mwo?” tawaku terhenti saat itu juga.
“Aku bilang aku membukanya!”
“Ta-tapi, bagaimana bisa? Kau bercanda, ya?” tanyaku sedikit bergurau. Ini tidak mungkin. Aku sudah melindungi folder itu dengan password. Itu adalah folder di mana aku menuliskan semua curahan hatiku mengenai... errr... Jimin hyung selama ini. Aku menuliskan apa pun di sana. Rasa sayangku, rasa iriku, rasa cemburuku terhadap Jimin hyung, dan rasa kekecewaan yang aku alami ketika aku menyadari adanya perubahan dalam sikapnya. Oh Tuhan, lindungilah folder tak berdosa itu...
Jimin hyung terlihat menghela napasnya dengan kasar. Sesekali ia memalingkan wajahnya ke arah lain. “Park Jimin!”
“Wae?” tanyaku bingung.
“Passwordnya... Park Jimin, kan?”
“Be-benar, tapi... MWO? KAU BERHASIL MEMBUKANYA? KAU MENGETAHUI PASSWORDNYA? OH TIDAK, INI BURUK! APA KAU MEMBACA SEMUANYA HYUNG? YA AMPUN! BUKAN AKU YANG MEMBUAT FOLDER ITU, SUNGGUH! FOLDER ITU SUDAH ADA DI DALAM LAPTOPKU SAAT AKU PERTAMA KALI MEMBELINYA...!”
Pletak! Sebuah jitakan berhasil mendarat di kepalaku. Aku meringis kesakitan sambil mengusap-usap bekas jitakan Jimin hyung tadi. Ah, aku benar-benar malu sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa di sini jadi panas, sih? Siapa yang mematikan AC-nya?
“Bahkan di saat seperti ini pun kau masih bisa mengelak!” seru Jimin hyung cemberut.
“A-apa maksudmu?” tanyaku ragu. Ya, mungkin Jimin hyung benar. Aku pandai berdalih. Ah, damn with my mouth then!
Deg. Tiba-tiba tubuhku mematung. Sesaat aku tak bisa merasakan degupan jantungku. Aku... aku...
“Mianhae. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu padamu.”
“Jimin hyung,” lirihku saat mendengar bisikkan Jimin hyung di samping kepalaku. Refleks, aku mengeratkan dekapannya dan menyembunyikan wajahku di bahunya. Aku yakin, wajahku sudah memerah.
“Aku membaca semuanya Jungkook-ah. Tadinya aku hanya iseng saja menggunakan namaku, dan ternyata kebuka. Mianhae...”
Aku hanya bisa terus bersembunyi dalam bahunya. Aku terlalu malu untuk menatap Jimin hyung. Lagian aku terlalu bodoh, sih! Seharusnya aku tidak menggunakan kata sandi “Park Jimin”. Seharusnya aku menggunakan kode yang lebih susah dari itu. Ah... Jungkook pabboya!
“I already fell in love with you at first sight. And my feeling will be same even i live one hundred years again. Saranghae Kookieya. Aku sengaja menjaga jarak denganmu karena kau selalu bersikap cuek padaku. Tapi saat membaca diarymu, aku tahu kau tersiksa dengan sikapku yang seperti itu. Mianhae Kookieya. Percayalah, aku akan selalu ada di sampingmu. Dan aku janji, aku tak akan terlalu dekat dengan member lain.”
“Ji-jinjja?” aku tak bisa menyembunyikan getaran yang menghinggapi suaraku. Ah, benarkah ini? Jimin hyung sudah kembali?
Aku menatap Jimin hyung dengan ceria. Perasaan haru tiba-tiba menggelayuti hatiku dan membuat mataku terasa panas. Ah, tidak. Jangan menangis Jungkook-ah! Kau cengeng sekali!
“Aigoo, kau menangis eoh?” tanya Jimin hyung saat kurasakan sebutir cairan jatuh dari mataku.
“A-ani! Aku hanya kelilipan!” dalihku sambil mengusap air mata dengan kasar.
“Haha.. Kenapa kau selalu mengelak seperti itu Jungkook-ah? Kau lucu sekali! Haha...”
“Yak! Berhenti menertawakanku!” ujarku ketus. Tapi tawa Jimin hyung malah semakin keras. “Babbo!” umpatku tertahan.
“Mwo? Kau mengataiku babbo? Aish.., this punk!”
“Haha... Mianhae mianhae...” Kini giliranku yang menertawakannya. Hhh... sudah lama aku tidak bercanda seperti ini dengan Jimin hyung.
“O iya, Jungkook-ah. Lebih baik kau jangan terkena demam lagi!” saran Jimin hyung.
“Memangnya kenapa? Lagi pula aku tidak menginginkan penyakit itu kok!”
“Hm, baguslah. Asal kau tahu, saat kau terkena demam kau selalu memanggil namaku!”
“Mwo? Mana mungkin!” sanggahku cepat.
“Seriously! Aku tidak tahu ternyata kau benar-benar mencintaiku. Hahaahahaa...” Jimin hyung kembali tertawa.
“Yak! Stop laughing hyung!”
Grep! Tiba-tiba Jimin hyung memelukku lagi sambil tertawa.
“You’re only mine Jungkookie~~ Haha. Give this hyung a ppoppo...”
“Huaaaa andwae~~~! Menjauhlah dariku hyung! Dasar kau bantet!”

~FIN~

Selasa, 02 Juni 2015

FF JiKook BTS Still Dancing Part 2



Main cast: Jeon Jungkook BTS
                  Park Jimin BTS
                  Lee Yeon Hee (SM ent)
Note: Mau ada yang baca atau pun nggak, yang penting tetep mosting >,< lmao~

*Happy reading juseyo~~~*



“Jimin-ah, lepaskan! Tanganku sakit!” ujar Yeon Hee sambil meringis.
Jimin hanya terdiam. Ia kesal. Lebih tepatnya, ia cemburu dengan apa yang baru saja ia lihat. Siapa tadi? Jeon Jungkook? Si anak ingusan itu? Berani-beraninya ia merebut Lee Yeon Hee dariku, batin Jimin.
Ia tak habis pikir, adik kelasnya itu akan melakukan hal yang nekat. Memang, sih, Jungkook itu salah satu cowok terganteng di seantero sekolah. Wajar saja kalau Jimin mengetahui namanya, soalnya Jungkook tenar banget, sih.. Semua yeoja yang melihat Jungkook pun pasti bakal langsung klepek-klepek. Dan hal itu membuat Jimin risih juga. Ia takut kalau Yeon Hee noona bakal jatuh ke pelukan Jungkook. Apalagi pas lihat kejadian tadi. Si Jungkook pake pegang-pegang tangan Yeon Hee segala, lagi. Pan Jimin jadi jealous :P
“Jiminie, lepaskan!” bentak Yeon Hee seraya menghempaskan tangannya dari genggaman Jimin. “Apa yang kau lakukan?”
“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang noona lakukan dengan anak ingusan itu?” Jimin marah.
“Mwo? Siapa maksudmu? Jeon Jungkook?”
“Geurae~” ucap Jimin seraya mempoutkan wajahnya.
“Haha.” Yeon Hee tertawa. “Dia hanya main-main Jimi-ah.”
“Bermain-main bagaimana? Jelas-jelas tadi aku melihat tangan noona dipegang olehnya. Seharusnya hanya aku yang boleh memegang tangan noona. Hanya aku yang boleh ada di samping noona!” suara Jimin meninggi.
“YAK! Memangnya kau ini siapa? Kenapa kau jadi marah-marah begini?” Yeon Hee balik menggertak.
“Ch..” Jimin memalingkan muka. “Noona tahu? Noona telah menghancurkan harapanku.”
Jimin langsung berlari entah kemana, meninggalkan Yeon Hee yang masih mematung di tempatnya. “Kenapa sih, dia?”
#Flashback End
***
#LeeYeonHeePOV
Ah~ apa ini salahku? Memang, sih, akhir-akhir ini Jungkook sering sekali mendekatiku. Dan aku tak tahu kalau hal itu membuat Jimin cemburu. Ah, benarkah dia cemburu?
Aku berlari mengejar Jimin. Tapi namja itu sudah tidak ada. Aku rasa ia pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya yang sudah dibanjiri oleh keringat. Haruskah aku menunggu?
PING!
Noona, nanti malam kita dinner yuk! ~~Jungkook
Hhh~ dari anak itu lagi. Harus kuakui, Jungkook memang tampan. Hampir semua yeoja yang ada di sekolah ini mengidolakan Jungkook. Termasuk teman-teman sekelasku, mereka selalu bercerita tentang anak ini. Ya, mereka bilang lumayanlah, kali-kali ngeceng berondong!
Tapi status ‘berondong’ Jungkook tidak cukup untuk mengetuk hatiku. Apalagi setelah aksi penembakan yang ia lakukan kemarin. Kukira aku akan mulai menyukainya. Tapi ternyata tidak. Aku malah mengkhawatirkan Jimin. Dan itu membuatku bingung.
Aku tidak tahu apakah malam ini aku bisa dinner denganmu~~Yeon Hee
PING! Tak lama, balasan dari Jungkook datang lagi.
Yah, noona. Memangnya kenapa? Kau membenciku, ya? L ~~Jungkook
Ani~ aku hanya tidak ingin kemana2 malam ini. Lagipula aku harus mempersiapkan diri untuk UN. Mian~~Yeon Hee
Akhirnya, aku memutuskan untuk menolak ajakan Jungkook. Bukannya aku tak mau dinner dengan namja tampan, hanya saja aku tak mau memberikan harapan palsu kepada Jungkook. Perasaanku kepadanya hanya sebatas senior dan junior. Tidak lebih. Dan aku harap dia juga berpikiran seperti itu.
***
#AuthorPOV
@Jimin’s House
Jimin membantingkan tubuhnya di kasur. Ia meraih ponselnya lalu menekan beberapa tombol di sana.
“Hhh... kenapa noona tidak menghubungiku?” gumamnya pelan. Ia terus menatap layar ponselnya, berharap Yeon Hee meneleponnya. Atau setidaknya ngirim SMS lah...
“Mungkinkah noona marah karena aku mengabaikannya?” gumam Jimin lagi.
Saat di lapangan tadi Jimin memang bersikap cuek kepada Yeon Hee. Ia sengaja melakukan itu. Soalnya, Jimin benar-benar kecewa dengan Yeon Hee noona. Memang, sih, tidak ada tanda-tanda bahwa Yeon Hee noona menyukai Jungkook. Tapi, hey, Jimin masih cemburu! Jimin benci ketika Yeon Hee dekat dengan namja lain. Apalagi Jungkook! Jika diadakan sayembara, pasti Jungkooklah yang bisa memenangkan hati Yeon Hee. Secara, Jungkook itu lebih tampan dari Jimin. Dan pastinya, meskipun Jungkook adik kelasnya Jimin, tidak merubah kemungkinan bahwa Jungkook itu lebih tinggi dari Jimin.
“Ch... awas kau Jeon Jungkook! Aku tidak akan membiarkan noona-ku jatuh cinta padamu!” desis Jimin geram.
PING! Tiba-tiba ada sebuah pesan. Dan itu dari Yeon Hee noona. Jimin langsung tersenyum lebar.
Jiminie, neo gwaenchana? Bagaimana dengan kakimu? Aku khawatir saat kau terjatuh di lapangan tadi~~My Noona
“Wah~ ternyata noona begitu perhatian.” Jimin cekikikkan. Ia langsung membalas pesan Yeon Hee.
Hmm... Nan gwaenchana~~Jimin
Sengaja Jimin membalasnya singkat. Ceritanya, kan, dia lagi marah sama Yeon Hee. Jadi sok jual mahal gitu.
Oh, baguslah. Get well soon~~My Noona
Jimin mengangkat kedua alis matanya setelah membaca balasan dari Yeon Hee. “Hanya itu? Tak ada lagi? Ck~”
Dan Jimin pun kembali menggalau. Argh, ia benar-benar frustasi.
#JiminPOV
“Argh, noona benar-benar jahat!” desisku geram. Aku membantingkan ponselku ke lantai. Bodo amat, deh, kalau rusak. Yang jelas, hatiku tidak boleh rusak hanya karena seorang yeoja! Yeon Hee noona juga, sih. Kenapa dia gak peka coba? Padahal kan selama satu tahun ini aku sering ngasih kode. Tak bisakah noona merasakan detak jantungku? Aliran darahku? Hembusan napasku? Argh, jiwa alayku mulai kumat.
Aku memang sudah lama mengenal Yeon Hee noona. Dia yeoja yang cantik, baik, dan dewasa. Banyak sekali namja di sekolahku yang menyukainya. Tapi aneh. Aku belum pernah mendengar gosip tentang namja yang disukainya. Dengan alasan itulah aku mendekati noona. Karena kurasa, dia telah berhasil mengambil sebagian jiwaku.
Noona sangat baik. Ia punya senyuman yang tak dimiliki yeoja lain. Dan hal itu membuatku semakin menyayangi noona. Hanya saja, sampai saat ini aku belum bisa mengungkapkan perasaanku. Ya, nyali namjaku belum muncul. Maklumlah, masa puber. Masih malu-malu kucing gitu.
Tapi aku sedikit terkejut juga dengan si anak ingusan¾Jeon Jungkook¾itu. Kenapa dia berani sekali menyatakan cintanya kepada Yeon Hee noona? Padahal kan dia baru kelas satu SMA. Chh... dasar tak tahu malu.
Sudahlah, lebih baik aku tidur. Jangan pikirkan anak culun itu. Tak ada gunanya.

***
Keesokan harinya, saat jam istirahat sekolah....
#AuthorPOV
“Noona?” Jungkook berdiri di ambang pintu kelas Yeon Hee. Ia melambaikan tangan kanannya.
“Yeon Hee, lihatlah! Dia datang lagi!” ujar teman Yeon Hee.
“Nugu?” tanya Yeon Hee.
“Siapa lagi kalau bukan si tampan yang menembakmu tempo lalu! Aku rasa dia rindu padamu,” kata teman Yeon Hee yang lain disusul oleh tawa.
Yeon Hee beralih menatap Jungkook. Namja itu mengeluarkan senyum andalannya¾siapa tahu Yeon Hee langsung kepincut setelah melihat ‘killing smile’nya Jungkook. ><
“Ada apa kemari?” tanya Yeon Hee menghampiri Jungkook.
“Ani. Aku hanya ingin bertemu noona,” jawab Jungkook sambil tersenyum.
“Kau ini. Aku sedang sibuk belajar. Jika tak ada hal yang penting, jangan temui aku.” Yeon Hee hendak kembali ke tempat duduknya. Tapi Jungkook langsung menarik lengan Yeon Hee.
“Woooaaaa...,” teriak teman-teman Yeon Hee.
“Kau belum menjawab pertanyaanku waktu itu noona,” ujar Jungkook.
Yeon Hee beralih menatap Jungkook. “Pertanyaan yang mana? Memangnya kau menanyakan apa?”
“Whoaa, ternyata noona pelupa, ya. Haruskah aku mengucapkannya lagi? Ah, baiklah...”
“Kau ini bicara apa, sih,” gumam Yeon Hee risih.
Jungkook berlutut di depan Yeon Hee, sedang kedua tangannya menggenggam telapak tangan yeoja itu.
“Jadilah pacarku, noona. Saranghae~” ucap Jungkook sambil mencium tangan Yeon Hee.
  TBC~
Kritik dan saran yeah~ :3

Senin, 01 Juni 2015

FF Jikook BTS Still Dancing part 1



Author: @afphantom092
Main Cast: Park Jimin
                  Jeon Jungkook
                  Lee Yeon Hee
HAPPY READING GUYS^^

#AuthorPOV
Blug...
“Argh...!”
“Jimin-ah, neo gwaenchana?”
Seorang yeoja langsung menghambur ke tengah lapangan saat Jimin¾seorang pemain basket¾tersungkur jatuh. Namja dengan eye-smile itu mengerang kesakitan. Ia menggenggam erat pergelangan kaki kanannya.
“Neo gwaenchana?” kali ini yeoja tersebut sudah berada di depan Jimin. Ia memijit-mijit kaki namja itu.
“Nan gwaenchana. Kenapa kau masih memerdulikanku?” tanya Jimin, air mukanya berubah masam.
“Mwo?” yeoja itu membulatkan matanya tak percaya. Kenapa tiba-tiba dia berbicara seperti itu?
“Lebih baik kau pergi. Aku bisa menangani ini sendiri.” Jimin bangkit dengan langkah tergopoh. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak di pinggir lapangan. Lalu pergi tanpa memedulikan bola basketnya dan yeoja tadi.
“Noona, mianhae...” batin Jimin.
***
#LeeYeonHeePOV
“Ige mwoya? Aku dicampakan?”
Aku benar-benar tak percaya Jimin bisa mengatakan hal itu. Memangnya apa salahku? Aku hanya mencoba untuk menolongnya, tapi ia malah membiarkanku seperti ini?
“Hah! Jimin-ah, neo paboya~!” jeritku geram. Untung keadaan sekolah sudah sepi. Jadi aku tidak perlu malu untuk berteriak di tengah lapangan basket ini.
Aku melirik ke arah Jimin. Meskipun sikap namja itu menyebalkan, tapi aku tak bisa berpura-pura untuk tidak memedulikannya. Karena bagaimanapun, hati ini tak bisa dibohongi. Aku tak bisa munafik.
Namja itu berjalan terseok dengan ransel besar yang menempel di punggungnya. Ya, sudah sekitar dua jam Jimin latihan di lapangan. Entah apa yang namja itu pikirkan. Tapi aku rasa, ada sesuatu yang aneh dari Jimin. Ia berubah. Semenjak kejadian hari itu... ia berubah. Ah~ apakah ini salahku?
***
#Flashback
#AuthorPOV
“Yaakk!! Jeon Jungkook!” teriak Jimin geram. Wajahnya berubah merah.
“Mwo?” Jungkook memasang wajah kalemnya tanpa memedulikan teriakan Jimin.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau...” Jimin menatap lamat tangan Jungkook yang menggenggam erat jemari Yeon Hee.
“Noona, apa kau... menghianatiku?” lirih Jimin.
“Mwo? Apa maksudmu?” Yeon Hee balik bertanya.
Jungkook tak memedulikan teriakan Jimin. Ia kembali menatap Lee Yeon Hee yang notabenya adalah sebagai kakak kelas Jungkook.
“Noona, maukah kau menjadi yeojachinguku?” tanya Jungkook. Hal itu membuat semua pasang mata membulat sempurna.
“Mwo?” alis Yoen Hee terangkat.
“MWOOO??? INI TIDAK BISA! ANDWAE...!” teriak Jimin yang langsung merebut tangan Yeon Hee dari genggaman Jungkook.
“Noona, ayo kita pergi!” ajak Jimin sambil menarik paksa Lee Yeon Hee.
Jungkook masih terdiam di tempatnya. “Mwoya? Siapa itu? Berani-beraninya dia mengacaukan moment indahku! Aishhh... jinjja!” Jungkook menghentakkan kakinya ke lantai. Ia kesal.
“Apa yang kalian lihat?” gertaknya saat ia masih melihat orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh. “Awas, ya, aku akan membalasmu!”
***
TBC~
Saran dan kritiknya ditunggu yeah :v
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo