Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2021

Gradina Mortii

 


Sinopsis: Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa wisata Taman Mawar di daerah itu sangat angker. Dengan berkunjung pada waktu pergantian posisi bulan dan matahari, kamu akan menemukan sesuatu yang tak terduga. Beberapa saksi mengatakan pernah melihat penampakan. Sebagian lain berasumsi dilimpahi nasib mujur setelah beribadah di tengah kebun mawar. Benang kebenaran dan kebohongan yang tipis itu membuat dua insan tergerak untuk bertindak. Hari ini, Lila dan Dafa akan menguak misteri yang sesungguhnya.



Dafa: Nah, guys. Sekarang kita berdua udah ada di dalam taman (bicara ke arah kamera).


Lila: (ikut melihat ke arah kamera) Ini udah mau maghrib, harusnya kita gak boleh masuk ke sini. Tadi kita juga sempat debat sama petugasnya.


Dafa: Bener banget. Untungnya gue sogok.


Lila: (tertawa) Gak ada yang bisa ngalahin kekuatan duit. Btw Daf, desas-desusnya kan wisata Taman Mawar ini tuh katanya angker. Tapi kok gue ngerasa biasa aja?


Dafa: Malah indah, kan? Bunga-bunganya lagi mekar juga. 


Lila: (mengangguk) Tapi gue penasaran kenapa tempat ini masih sepi aja. Harusnya dengan adanya rumor hantu itu, tempat ini bisa narik lebih banyak pengunjung.


Dafa: Ya tapi kan gak semua orang suka sama hal-hal misterius, La.


Lila: (terkekeh, melihat ke arah rumpun tanaman mawar) Eh Daf, fotoin gue di sana dong!



Dafa mengangguk, membiarkan Lila berlari ke arah rumpun tanaman mawar yang tumbuh setinggi dada. Kamera masih menyala dalam genggamannya. Sedangkan tangan yang lain sibuk memotret Lila dengan kamera ponsel. Matahari sudah semakin tenggelam, dan siluet Lila di bawah langit temaram seolah menjadi keindahan tersendiri sebelum sesuatu yang keras menghantam kepalanya.


Lila: (terlalu asyik menari di sekitar rumpun mawar, sedetik kemudian sadar tidak ada lagi suara Dafa) Daf? Dafaaa?


Lila: Dafa lo di mana? Sumpah Daf, gak lucu lo kayak gini!



Lila berlari pelan ke tempat sebelumnya Dafa berdiri, dan menemukan kamera digitalnya tergeletak di tanah.


Lila: (panik, mengeluarkan ponsel, mencari kontak Dafa untuk dihubungi) Please, please, angkat Daf! Lo gak bisa nge-prank gue di tempat kayak gini.


(sambungan telepon diangkat, terdengar suara gemerisik)


Lila: Sumpah keterlaluan lo Dafa! Lo di mana, sih? Gak lucu ninggalin gue di sini sendirian! Halooo? Dafaaa?


Dafa: (terdengar suara serak Dafa dalam sambungan telepon) .... La..ri. La-ri ... La...ri.


Lila: Apa? Daf lo ngomong apa, sih? Cepet balik ke sini, kalau engga gue bakal tinggalin elo! Gue gak peduli sama vlog elo ya, gue gak mau jadi guest star lagi kalau gini jadinya.


Dafa: Per...gi. La...ri, La. La... (terdengar suara tawa lain dari telepon)


Lila: (gugup) Please, Daf. Gak lucu tau! 


Dafa: Lo ... harus per...gi dari sini, La. La...ri. (berteriak) ARRRGH!


(sambungan terputus)


Lila: Halo?! Daf, lo gak kenapa-napa, kan? Haloooo?! Dafa serius ini gak lucu. Lo gak bisa jailin gue kayak gini. Dafa! Halooo?

(panik, langsung melirik ke sekeliling taman yang mulai gelap, lalu berlari untuk menemukan pintu keluar)



Rimbun tanaman dan pepohonan hijau seolah berputar di sekitarnya. Pintu yang tadi ia dan Dafa masuki tak jauh dari tempat tanaman mawar berada. Namun Lila tak bisa menemukan apa pun. Sayup, ia mendengar suara seseorang bersenandung.


Lila: (mengatur napas, mengikuti ke arah senandung itu berasal) Awas aja Daf kalau itu beneran elo. Gue bales nanti! Kurang ajar banget udah ngerjain gue. Ngeselin sumpah.


Lila: (melihat seseorang yang sedang jongkok sambil memupuk tanaman) Loh, bukannya itu petugas yang tadi?


Lila berjalan lebih dekat, senandung dari arah petugas tersebut terdengar semakin jelas. Perlahan, Lila menepuk bahu petugas itu, dan seketika senandung itu berhenti.


Lila: Em... maaf, Pak. Bapak lihat teman saya yang tadi, engga? Jail banget nih dia ninggalin saya.


Petugas berdiri, kemudian berbalik ke arah Lila sambil menyeringai. Satu detik kemudian, sebuah benda keras menghantam kepala Lila dan mengubah pandangannya menjadi hitam.


Lila: (kesadaran mulai kembali, mengerjapkan mata dengan berat, kemudian membulatkan mata saat melihat wajah Dafa di hadapannya) Daf! Dafa! Kok lo berlumurah darah kayak gini? Dafaaa! Dafa bangun, Daf!



Terdengar senandung lain. Lila membeku di tempat dan baru menyadari bahwa tubuh Dafa yang ada di hadapannya tidak utuh. Melirik ke sumber suara, Lila langsung mendapati wajah menyeramkan petugas tadi dalam jarak beberapa senti.


Lila: (berteriak histeris) AAAAA! Pergi! Orang gila! TOLOOONG! TOLOOONGG! Pergi lo setan, pergi!


Lila terhuyung saat mendapat sebuah pukulan di wajah. Ia bisa mendengar suara tawa pelan, diikuti senandung mengerikan dari petugas itu. Rambut panjangnya ditarik dengan kasar, tubuhnya diseret di atas tanah.


Petugas: (terkekeh, bersiul pelan, lalu kembali bersenandung) ... 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯𝘬𝘶 ... 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘵𝘪𝘩 ... 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩. Hihihi.... 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪 ... 𝘬𝘶𝘴𝘪𝘳𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢. 𝘔𝘢𝘸𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪 ... 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩....


⠀⠀⠀⠀⋆ ─────────── ⋆

ini gatau apaan :" tp pengen upload aja wkwk.


Minggu, 18 Juli 2021

Cerpen : BUNDA

 Tidak pernah terlintas dalam pikiran Ratih, jika merantau ke tanah seberang akan membawanya dalam malapetaka. Niat suci untuk menuntut ilmu dan menjadi kebanggaan warga desa, kini luntur karena sebuah benda kecil di genggamannya.


Dua garis merah. Dan itu cukup untuk menghancurkan hidupnya beberapa tahun ke depan.


"Aku hamil," ucapnya kala itu.


Hanya delikan tajam yang ia dapat sebagai respon. Tak ada simpati sedikit pun di mata kekasihnya. Malah, lelaki pemilik darah campuran itu mendengus sebelum dengan entengnya menjawab, "Nanti gue beliin obat buat aborsi."


Bukan kalimat itu yang Ratih ingin dengar. Sudah cukup ia termakan janji palsu yang diutarakan Dias. Sudah cukup ia terjebak dalam hubungan tak sehat seperti ini. Dan sekarang laki-laki itu malah menyuruh Ratih untuk membunuh bayinya sendiri?


Sudah gila. Tentu saja Ratih menolak. Dosa yang ia tumpuk mungkin sudah melebihi puncak gunung. Dia tidak berniat menambahnya dengan membunuh janinnya sendiri. Jika kekasihnya tidak mau bertanggung jawab, maka jalan satu-satunya adalah menghubungi orangtua Dias.


Namun ia tidak pernah tahu jika penolakan dari sebuah keluarga akan sangat menyakitkan. Orangtua Dias menolaknya mentah-mentah. Dan lelaki itu menjauh, bertindak seolah hubungan di antara mereka tidak pernah terjadi. Beberapa kali Ratih melihatnya menggandeng perempuan baru. Dan ketika Ratih mengamuk, Dias malah mengusirnya bagaikan benalu.


Putus asa, Ratih teringat perkataan Dias. Ia mencoba melenyapkannya. Berolahraga berlebihan, menenggak beberapa botol alkohol, bahkan memakan buah yang mitosnya dapat menggugurkan kandungan. 


Sayangnya, perut Ratih makin membesar. Cibiran dari setiap sudut bisa ia dengar. Makian dari penghuni kost tak bisa dihindari. Bahkan ia mendapat hadiah dari kampus yang menyatakan bahwa ia telah didepak.


Adakah bagian kecil di dunia ini yang masih mau menerima dirinya? Jika tidak, maka lebih baik ia mati saja.


"Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa, aku janji bakal nikahin kamu."


Pembual ulung. Perkataan Dias kala itu masih terngiang di telinganya. Seharusnya ia tidak boleh terjerat dalam rayuan Dias sejak awal. Tapi semuanya sudah terjadi. Dan itu membuat ia semakin frustrasi.


Seutas tali tambang sudah mengalung indah di sekitar lehernya. Sudah diputuskan, ia akan mati hari ini. Kala kakinya hendak menendang satu-satunya tumpuan, tiba-tiba dering ponsel di ruangan itu terdengar.


Dengan berat hati, Ratih turun dari kursi dan menggapai benda itu. Mungkin ia akan menangguhkan waktu kematiannya beberapa menit ke depan. Saat melihat layar ponsel, beberapa pesan dan panggilan tak terjawab muncul di sana. Penasaran, akhirnya ia membuka kotak pesan sambil berurai air mata.



"Nak, Bunda sudah dengar kabar dari salah satu temenmu. Jangan sedih, jangan nangis. Besok Bunda bakal jemput kamu. Jangan mikir aneh-aneh ya, Sayang? Inget, Ratih masih punya Bunda di sini."



Sesak di dada tak terelakkan. Derasnya air mata tak bisa ia sanggah. Diam-diam ia merasa bersyukur karena masih ada orang yang mau menerimanya.


Bunda .... Berkali-kali ia menggumamkan panggilan itu. Sebersit rasa bersalah menyelimuti hati Ratih. Orang yang selama ini tak pernah ia anggap ada, malah menjadi satu-satunya tujuan untuk ia kembali. 


Ratih kembali membaca pesan tersebut untuk kemudian tenggelam dalam tangis.


"Nak, darah kita boleh tidak sama. Tapi sampai kapan pun, kamu akan tetap jadi putri kesayangannya Bunda."




note : cerita ini sempat diikutsertakan dalam kompetisi menulis Koru.

Sabtu, 26 Juni 2021

Cerita Pendek REUNI

 


Sakit kepala menyerang begitu hebat. Beberapa botol minuman terjatuh dan pecah. Aku hampir terpeleset dari tangga.


"Sialan. Seharusnya aku tidak boleh mabuk!"


Dengan dua botol yang tersisa dalam dekapan, aku berjalan menuju anak tangga terakhir. Melangkahkan kaki lebih lebar, untuk menghindari pecahan kaca dari botol minuman yang jatuh tadi.


Namun, keributan di ruang tengah mengejutkanku.


Alen, Vero, Zefa, dan Jovan tengah berteriak histeris seperti orang gila. Raut ketakutan begitu jelas pada wajah mereka. Sementara Raiga sudah tergeletak di sana.


Tak lama, Vero dan Zefa menjerit kala Alen mengarahkan gergaji mesin ke kakinya sendiri. Seiringan dengan bunyi putaran gerigi dan patahan tulang yang berpadu, darah segar menyembur ke mana-mana.


"TIDAK! ALENNN, TIDAK!!!" Vero menangis. Memeluk tubuh kekasihnya yang kini tak lagi bernyawa.


Sementara Jovan beringsut mundur. Ia melemparkan sebuah balok kayu kecil dari genggamannya. Dalam hitungan mili detik, ia memecahkan botol minuman kemudian menusukkan benda itu tepat ke perut Zefa.


Vero histeris lagi. Ia menjambak rambutnya lalu beringsut dari sana.


"Vero, sekarang giliranmu. Apa yang kau dapat?"


Aku bisa mendengar Jovan berkata lirih.


Vero mengeluarkan balok kayu lain dari dalam saku celananya. Lalu ia berkata, "Aku ... harus membunuhmu, Jovan."


Jovan mendadak murka. Pemuda itu hendak menyerang Vero dengan pecahan botol yang sama. Tapi gadis itu menghindar. Menendang Jovan dengan kakinya, kemudian meraih gergaji yang tergeletak di lantai.


Sebuah pemandangan paling mengerikan yang kulihat saat ini adalah, Vero memenggal kepala Jovan dengan gergaji mesin di tangannya. Beberapa saat kemudian gadis itu menjerit, melemparkan gergaji mesin itu ke sembarang arah.


Vero terengah. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan darah. Kala ia menyadari kehadiranku, ia berjalan mendekat.


"Zoya? Kau telah merencanakan semua ini, bukan?" 


Aku menggelengkan kepala dengan panik. Aku tidak mengerti! 6


Belum sempat Vero menggapai tubuhku, mendadak ia terbatuk. Napasnya tercekat seperti ringkikan kuda. Tak lama, darah menyembur dari mulutnya. Vero ... tiba-tiba terkulai tak berdaya.


Jantungku berdegup cepat. Aku berjalan menghampiri tubuh teman-temanku yang kini tak bergerak. Botol minuman alkohol yang tadi kudekap kini sudah menggelinding di bawah sana. Karpet bulu putih yang sedari tadi jadi tempat bercengkerama, kini penuh dengan genangan darah. 7


Aku meraih satu per satu balok kayu yang ada di sekitar mereka.


Balok kayu milik Raiga memiliki tulisan, "Bercintalah dengan kekasih temanmu. Jika tidak, kau akan segera mati." 


Dan tubuh Raiga tergeletak dengan busa yang memenuhi mulutnya.


Pada kayu balok milik Alen tertulis, "Ambil gergaji di samping perapian dan potonglah kakimu sendiri. Jika tidak, kekasihmu akan mati." 8


Perintah pada kayu balok milik Jovan berbunyi, "Bunuh Zefa. Atau nyawamu melayang sebentar lagi."


Sedangkan pada balok kayu milik Vero tertulis, "Bunuhlah Jovan. Atau hidupmu akan berakhir dalam 5 menit."


Dan terakhir, balok kayu milik Zefa. "Ambil pisau cutter di atas meja, lalu sayat lehermu sendiri di depan mereka." 9


Tangisku luruh. Dan balok kayu itu jatuh. Kini tanganku bergerak ke dalam saku celana, meraih benda yang sama seperti milik mereka.


Di sana terdapat tulisan, "Bersihkan kekacauan."


Seketika aku menyeringai. Kemudian meregangkan tanganku sambil menghirup bau darah yang memenuhi ruangan.


"Hhh ... sayang sekali Zefa belum melakukan tantangan miliknya. Senang bertemu dengan kalian, teman-teman. Ini adalah pesta reuni pertama yang saaangat menyenangkan! Hihi."



Senin, 31 Mei 2021

Telah Terbit! Novel POSTPONED LOVE karya Annisa Febriyati Sari

 



Telah Terbit!🤩✨

Novel

Judul : POSTPONED LOVE

Penulis : Annisa Febriyati Sari

Tebal : 280 halaman

Penerbit : ATPress


Blurb :


“Jika nilai cos 90 derajat adalah kosong, maka begitu juga nilai hidup gue kalau gak ada elo, Tur. Sama-sama gak ada artinya.”

-Angel-

***

Pertemuannya dengan Rey membuat hidup Angel jauh lebih berwarna. Kenyataan bahwa ia bisa memiliki sahabat masa kecilnya kembali, membuatnya semakin bahagia. Kenangan-kenangan yang mereka ciptakan pun, ternyata berhasil menumbuhkan perasaan lain. Namun, apa jadinya jika Guntur cemburu? Bukankah Guntur adalah sahabatnya juga? Haruskah ia lebih memilih Guntur dan mengabaikan Rey? Atau sebaliknya?


~~~~

Alhamdulillah, novel pertamaku akhirnya terbit juga, gengs! Seneng banget huhuhu :(

Perjalanan nulis novel ini tuh panjang banget menurutku, makan waktu bertahun-tahun karena akunya yang gak konsisten dalam menulis wkwk.

Awalnya, tokoh Angel dan Guntur pernah aku tulis pada sebuah cerita berjudul Angel's Diary pas masih jaman-jaman SMP. Tapi cerita itu cuma berupa dialog-dialog doang. Terus aku juga pernah ngasih judul Dark Rosse kalau ga salah. Di mana aku munculin tokoh Rey yang karismatik. Tapi ternyata, cerita itu cuma dasar-dasar doang, lebih mirip kayak script drama.

Lalu masuk jenjang SMA, barulah aku tau jenis novel itu harus ditulis kayak gimana. Mulai dari situ aku nulis ulang, nambahin deskripsi, sesuain plot sama usia karakter, lalu lahirlah novel Love Formula.

Ketika masa revisian, banyak banget ilmu yang aku dapet dari CEO AT Press; Kak Ariny. 

Beliau bantu aku buat perbaikin jalan cerita sehingga alurnya bisa lebih baik lagi. Dan aku berterimakasih banget buat bantuannyaaa :* 

Juga setelah berdiskusi, akhirnya naskah ini sepakat diberi judul "Postponed Love". Dan judul ini dikasih sama A Erlan Dewa. Aku juga berterimakasih banget buat A Erlan yang udah bantu nemuin judul buat novel ini :))


Last, buat temen-temen yang mau order Novel Postponed Love bisa langsung WA ke nomor yang ada di foto, yaaa. Sangkyuuu~^^

Kamis, 01 April 2021

Telah Terbit! Buku Kumpulan Cerpen Horor THE BLACK GRUDGE oleh Annisa Febriyati Sari

 


THE BLACK GRUDGE (Kumpulan Cerita Horor dan Misteri)
Penulis : ANNISA FEBRIYATI SARI
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 978-623-319-431-0
Terbit : Februari 2021
Harga : Rp 82000
www.guepedia.com

Sinopsis :

Seorang siswi SMA ditemukan tewas bunuh diri.
Mia mengayunkan kruknya dengan cepat kala melihat kerumunan siswa di depan toilet wanita. Beberapa guru berdiri di sana dengan wajah cemas. Sesekali terdengar teriakan dari sana. Penasaran, Mia pun berusaha untuk bergabung dengan mereka. Dan saat ia berhasil menyelipkan kepalanya di antara siswa lain, kedua matanya langsung membulat. Tubuhnya terhuyung ke belakang membuat kruk miliknya terjatuh. Bersamaan dengan itu, dua orang polisi keluar dari toilet dengan membawa seseorang. Mayat Debi.
The Black Grudge, merupakan sebuah buku antologi sederhana yang terdiri dari sembilan cerita fiksi pilihan dengan mengusung tema horor dan misteri. Beragam cerita yang tersaji di dalam buku ini menyuguhkan emosi gelap setiap tokoh yang memiliki dendam atas kejadian di masa lalu. Dengan beragam tema seperti; pembalasan dendam, teror makhluk halus, serta pembunuhan berdarah, penulis berharap agar buku antologi sederhana ini dapat menyegarkan dahaga pembaca akan cerita horor yang identik dengan kematian.


www.guepedia.com
Email : guepedia@gmail.com
WA di 081287602508
Happy shopping & reading
Enjoy your day, guys


untuk pemesanan bisa langsung klik link di bawah ini yaa^^

GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MjA3Mzc=
TOKOPEDIA
https://tokopedia.com/guepedia/the-black-grudge-kumpulan-cerita-horor-dan-misteri
BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/novel/4bxtnhs-jual-the-black-grudge-kumpulan-cerita-horor-dan-misteri
GUEPEDIA STORE
https://guepediastore.com/products/5229507/the-black-grudge-(kumpulan-cerita-horor-dan-misteri)
FACEBOOK
https://www.facebook.com/photo/?fbid=2707978376179392 
INSTAGRAM
https://www.instagram.com/p/CLlMw_ZH6wX/


Telah Terbit! LAZUARDI PEMIKAT HATI oleh Annisa Febriyati Sari

 


Lazuardi Pemikat Hati ( Kumpulan Antologi Cerpen )
Penulis : ANNISA FEBRIYATI SARI
Ukuran : 14 x 21 cm
Terbit : Februari 2021
Harga : Rp 86000
www.guepedia.com

Sinopsis :

“Setelah kejadian itu, semuanya suram. Aku merasa bahwa hidupku hancur,” ungkap Mbah terisak, “Aku sempat marah kepada Tuhan, karena Dia tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bercengkerama dengan gadis itu,”

“Lalu, apa yang terjadi dengan gadis itu setelah ditembak, Mbah?” tanya Le, yang hanyut dalam cerita Mbah.

“Dia..., tertembak di sini,” dengan jari telunjuk yang bergetar, Mbah menunjuk letak jantungnya, “Maka dari itu, dia tak bisa selamat. Sedangkan aku, tertembak di sini,” Mbah menunjuk lengan kanannya bagian atas. “Dan kau tahu, Le? Aku sangat mencintai selendang lazuardinya. Kala itu, selendangnya bersimbah darah karena luka tembakan. Tapi, pada detik-detik terakhirnya, ia sempat memberi amanat padaku agar aku menyimpan selendang itu. Tak ayal, aku mencucinya dan merawatnya setiap waktu, sebagai ungkapan rasa kasihku yang tak bisa aku curahkan padanya,”

Terdiri dari 14 karya fiksi, Lazuardi Pemikat Hati merupakan kumpulan karya Annisa Febriyati Sari yang ditulis selama tahun 2015. Kumpulan cerita pendek ini mengusung berbagai tema: kisah cinta dengan kepercayaan yang berbeda, perjuangan cinta yang terhalang oleh masa perang, lika-liku kisah cinta semasa sekolah, serta dilema dan kesedihan yang dialami oleh setiap tokoh dalam menentukan jalan hidupnya.

www.guepedia.com
Email : guepedia@gmail.com
WA di 081287602508
Happy shopping & reading
Enjoy your day, guys

untuk pemesanan boleh langsung klik salah satu link di bawah ini yaa^^

GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MjA2MjE=
TOKOPEDIA
https://tokopedia.com/guepedia/lazuardi-pemikat-hati-kumpulan-antologi-cerpen
BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sastra/4ayc0a7-jual-lazuardi-pemikat-hati-kumpulan-antologi-cerpen
GUEPEDIA STORE
https://guepediastore.com/products/5122968/lazuardi-pemikat-hati-(-kumpulan-antologi-cerpen-)
FACEBOOK
https://web.facebook.com/photo/?fbid=2699497100360853 
INSTAGRAM
https://www.instagram.com/p/CLEUsCtnUNL/


Rabu, 14 Desember 2016

An Enemy - Cerpen



An Enemy
Cr: google
“Dasar asin!”
“Dasar lekong!”
“Asin ...!”
 Le¾
Stop!” sergah seseorang. “Kalian ini kenapa, sih? Dari tadi kerjaannya adu mulut terus! Kapan bisa selesainya, coba?” gerutu Mita seraya melempar tatapan tajam ke arahku dan ke arah ... lekong di sampingku.
Aku memajukan bibirku seraya melipat tangan di depan dada. Ya, kami sedang berada di rumah Mita untuk mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia. Dan aku sangat tidak beruntung kali ini. Mengapa? Karena kini aku harus berada dalam kelompok yang sama dengan musuh bebuyutanku.
Lekong! Yup, begitulah aku memanggilnya. Kalian tahu apa arti dari kata tersebut, kan? Dalam kultur daerahku, lekong sering diartikan sebagai anak laki-laki yang memiliki sifat seperti perempuan. Dan kau tahu kenapa aku memanggil anak laki-laki di sampingku dengan sebutan itu? Ya ... karena dia sering bergaul dengan anak-anak gadis. Oh, jangan lupakan juga penampilan ‘rapi’nya setiap datang ke sekolah. Dia benar-benar penerus bangsa yang terlalu ‘disiplin’.
“Habis, ini anak ngajak perang mulu!”
Nah, kan! Yang mulai duluan siapa, yang nyalahin siapa! Aku mendelik ke arah Ahmad yang sedang membenarkan letak kacamatanya. Dia benar-benar seorang culun yang tidak tahu malu! Menyalahkan seseorang atas kesalahannya sendiri? Hell, please!
“Apaan, sih, orang dia yang ngeledek duluan!” belaku tak mau kalah. Mengingat Ahmad adalah musuh bebuyutanku dari TK, tentu saja perang yang sudah berlangsung selama hampir sepuluh tahun ini tidak boleh dimenangkan olehnya.
“Makanya kalau ngerjain tugas itu yang bener! Otak lo disimpen di mana, sih?” seloroh Ahmad bak anak gadis yang sedang kedatangan bulan. Me-nye-bal-kan.
Aku hanya merengut menanggapi perkataannya. Sekilas aku melirik Mita—ia hanya menggelengkan kepala beberapa kali seraya tersenyum kecut.
“Sumpah, ya! Gue kira hidup gue bakal barokah karena gue sekelompok sama anak-anak jenius kayak kalian. Tapi nyatanya apa? Kejeniusan kalian itu kelewatan tahu, gak?” Mita mulai melemparkan amarahnya lagi.
Aku pun kembali memajukan bibirku seraya meraih laptop yang sedari tadi menganggur di antara kami. “Iya, iya ... gue kerjain, gue kerjain ...,” gurauku seraya melanjutkan karya tulis kami yang sempat tertunda.
Kulihat Ahmad sedikit terkekeh saat menyaksikan ‘kekalahanku’ atas amarah Mita. Ya ... apa boleh buat. Kali ini aku harus melupakan sejenak status ‘musuh bebuyutan’ kami. Hanya di depan Mita. Ya ... hanya di depan gadis itu. Selebihnya, aku tidak boleh kalah lagi dari anak laki-laki menyebalkan seperti Ahmad. Tidak boleh! Sampai kapan pun tidak boleh!
***
Jam tanganku menunjukkan pukul lima sore. Aku bisa sedikit menghela napas lega setelah menyelesaikan tugas kelompok kami. Hasilnya, perfect! Bahkan Mita tak melemparkan sorotan tajam lagi setelah membaca ulang hasil kerja keras kami.
Aku pun meraih tas punggung yang tergeletak di teras, mengenakan sepatu, lalu berpamitan kepada Mita untuk pulang. Dan oh, aku melupakan seseorang yang—menurutku—selalu meniru gayaku.
Ahmad! Argh ... kenapa rumahku harus satu arah dengannya? Ralat. Kenapa rumahku harus bersebelahan dengan rumahnya?
“Sin, besok ada PR Kimia, kan?” tanyanya seraya menyamakan langkah denganku.
“Ada,” jawabku cuek.
“Pasti lo gak bisa ngerjain soal nomor delapan! Iya, kan?”
Aku tersentak. Bagaimana ia bisa tahu?
“Hahaha ....” Tiba-tiba Ahmad menggelak tawanya—yang menurutku terdengar menyebalkan.
“Apaan, sih, lo!” bentakku.
“Haha ... lucu aja! Masa ranking satu gak bisa ngerjain soal yang begituan!” ujar Ahmad. Aku tahu, itu adalah sebuah sindiran.
Ya ... harus aku akui, untuk semester ini aku mendapatkan peringkat pertama di kelas. Tapi entah untuk semester selanjutnya. Karena kau tahu kenapa? Ahmad! Dialah satu-satunya ancaman terbesarku dalam meniti karir pendidikkan. Sejak sekolah dasar dulu, posisi peringkat kami selalu berubah-ubah. Terkadang aku mendudukki peringkat pertama, tapi tak lama kemudian posisi itu akan direbut oleh anak laki-laki berkacamata di sampingku ini. Sungguh, perang yang tak akan ada habisnya!
“Lo ngeledek gue?” Aku melemparkan tatapan tajam ke arah Ahmad.
“Ih ... serem ...! Haha!” ujar Ahmad seraya mengambil langkah seribu.
Stop laughing, Ahmad!” bentakku. “Stop there! I will kill you!” Aku pun mengejar anak culun—menyebalkan—itu. Awas saja, aku akan menjadi mimpi buruk bagimu, Ahmad ....
***
Bukalah lembaran baru. Begitulah ucapan orang-orang saat menemukan sebuah kehidupan baru yang lebih cerah di depan mata mereka. Mungkin, aku juga harus mengucapkan kata-kata itu.
Ujian sekolah menengah pertama telah berakhir, dan libur panjang pun telah kulewati dengan suka hati. Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri di sebuah bangunan SMA favorit yang ada di kawasan Banjaran, Bandung.
Masa orientasi telah berlalu ... teman lama pun telah berlalu. Kini yang ada di depanku hanyalah segudang rumus yang akan mengantarkanku menuju kehidupan yang lebih baik; yang selalu aku impikan. Tak ada waktu untuk mengkhawatirkan apa pun. Begitulah prinsipku saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Aku harus belajar. Aku harus berjuang lebih keras lagi. Karena apa? Karena musuh bebuyutanku ... masuk ke sekolah ini. Apakah itu mengejutkan? Tentu saja tidak. Karena yang mengejutkan adalah ... dia berada di kelas yang sama denganku.
Hari-hari kulewati tanpa terlepas dari buku bacaan. Teman-temanku bilang, aku terlalu rajin. Tapi ini untuk masa depanku. Untuk membuktikan bahwa aku bisa mempertahankan posisiku agar tetap menjadi nomor satu. Ambisius? Mungkin. Tapi sekali lagi, ini demi mengalahkan si anak culun berkacamata itu.
Anyway, aku menemukan sebuah keganjilan saat menginjak bangku SMA. Ahmad. Laki-laki itu tak pernah menggangguku lagi. Ia tak pernah mengataiku ‘asin’ lagi. Ia juga tak peduli jika nilai ulangannya lebih rendah satu angka dariku. Bahkan, kami tak pernah pulang bersama lagi. Padahal aku sangat merindukan momen itu. Saat-saat di mana kami beradu argumen di dalam bus, saat di mana kami saling melempar ejekan tiap bertemu di sekolah, saat di mana kami selalu berlomba untuk menjadi ranking satu. Semua itu lenyap dalam seketika. Apakah ia sudah mengaku kalah? Oh ... ayolah! Bahkan perang belum berakhir!
“Mad, gue mau ngomong sama lo!” ujarku seraya menghampiri bangkunya. Aku sudah tak bisa menahan ribuan pertanyaan yang semakin menumpuk di dalam otak ini.
Ahmad melemparkan tatapan bingung ke arahku. Dasar bodoh. Tak bisakah dia berbicara sedikit saja?
“Kenapa lo jadi kayak gini?” tanyaku to the point. Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan basa-basi yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan.
“Maksud lo?” tanya Ahmad. Suara itu berubah menjadi lebih berat dan ... terdengar dewasa?
“Kenapa lo jadi kayak gini, sih? Dulu kita selalu berlomba-lomba buat dapet peringkat pertama. Dulu kita sering ngelempar ejekan satu sama lain. Tapi semenjak masuk SMA, kenapa lo jadi kayak gini?” tanyaku bertubi. Ada sebuah lengkungan heran yang tercipta di dahi Ahmad. “Lo berlagak seakan lo gak kenal sama gue. Kenapa?” Kini nada bicaraku mulai meninggi, membuat beberapa anak yang ada di dalam kelas langsung tenggelam dalam bisikkan-bisikkan.
Ahmad bangkit dari duduknya tanpa melihat ke arahku. “Ikut gue,” ucapnya dingin.
Keningku mengerut. Sangat tidak bisa dipercaya! Kenapa Ahmad bersikap seperti itu?
Aku terus mengikuti langkah lebar Ahmad. Sedikit lelah memang. Tapi rasa penasaran membuatku lupa akan status kami—sebagai musuh—sejenak. Sampai akhirnya, lelaki di depanku menghentikan langkahnya di halaman belakang gedung sekolah.
“Ngapain sih, kita ke sini?” tanyaku sembari mengatur ritme pernapasan.
“Maafin gue, Nis.”
“Hah? Maksud lo?” Alisku bertaut. Kini sepasang mata Ahmad tertuju ke arahku. Tepat ke arahku.
“Gue tahu, gak seharusnya gue ngerasain hal ini. Terutama sama orang jenius kayak lo. Tapi gue juga baru menyadari hal itu.”
“Lo ngomong apaan, sih! Gue gak ngerti, tahu!” ujarku ketus seraya melipat kedua tangan di depan dada.
“Dulu ... selama gue gangguin lo, selama gue jadi musuh lo, entah kenapa gue selalu pengen ngejailin elo, Nis. Gue gak tahu kenapa. Tapi perasaan itu selalu ada. Gue pengen terus ada di deket lo.” Terdengar sebuah helaan lembut dari bibir Ahmad. “Lama-lama, perasaan itu semakin kuat. Gue gak bisa tidur, gue gak bisa belajar, gue gak bisa ngapa-ngapain selain mikirin gimana caranya supaya gue bisa deket terus sama lo. Dan lo tahu apa yang gue dapet?”
Aku menggeleng.
“Gue ... suka sama lo.”
“Apa?” Suaraku tercekat. “Haha, lo jangan bercanda, Mad! Gak lucu, tahu!” ujarku seraya tertawa garing.
“Inilah alasannya kenapa gue ngejauhin elo. Gue gak mau prestasi lo nurun hanya karena hal bodoh ini,” lanjut Ahmad dengan nada serius. “Sekarang, lo udah tahu semuanya, kan? So, can we just go on and forget this stupid conversation?” Sepasang manik kecokelatan di balik kacamata itu menatap lembut ke arahku. Dan dalam detik berikutnya, tubuh ini sudah berada dalam dekapan seseorang. Ralat. Tubuh ini ... mendekap seseorang.
Please, just be my enemy. Jangan jaga jarak dari gue, Mad. Gue gak suka,” lirihku dalam dekapannya. “Lo cuma perlu ngeledek dan bersaing sama gue lagi! Jangan pernah menjauh! Lo satu-satunya orang yang bisa ngertiin gue!”
Kurasakan anggukan kepala Ahmad di pundakku.
Yes. I will be your sweet enemy. Lets study hard and get the top place. I love you ... Asin ....”
Bug!
“Aw ... kenapa lo nonjok perut gue?” ringis Ahmad seraya memegangi perutnya.
“Nama gue Nisa! N-i-s-a! Bukan A-s-i-n! Ngerti? Dasar lekong! Haha ....” Aku berlari meninggalkan Ahmad seraya tertawa puas. Kulihat ia juga berusaha mengejarku seraya mengeluarkan umpatan-umpatan khas perempuannya. Ah ... aku merindukan hal itu. Hidup memang penuh dengan kejutan. Well, berjanjilah untuk tetap menjadi musuhku, Mad. Sampai lulus nanti ....

 FIN

Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang tergabung dalam buku antologi Romantic Story yang diterbitin sama AE Publishing taun kemarin. Thankyou for coming^^ Please leave some critics below gomawo!^^ *bow*
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo