Senin, 20 Juli 2015

Cerita Bahasa Inggris(?)

THE SELF CENTER MOTHER

Note: Cerita ini dibuat pas MR.Suherman ngasih tugas. So, jika ada kesalahan grammar atau apa, hubungi saja MR.Suherman ya ._. muehehe
.
Seventeen years ago, there was a small village with small home and some inhabitant. The wether at the village was so fresh. It was far from the town, so the situation was so calm there. There was not polution, smoke, or another thing that can be dangerous for inhabitant’s healthy.
On 10th December 1998, there was a tragedy which happened to a family at that village. The tragedy was located in Tuban, East Java. The family that consist of: father, mother and son, must be traumatized by the pain incidence.
One day, when the mother had done every house work such as: cooking food, sweep the floor, washing some clothes, and made her son sleeping, the mother felt so lonely because her husband was working out in the field rice. She was boring, so she was sitting on the chair.
A few minute ago, she had an idea. She wanted to attend her neighbours to wacth them a film from her new TV. All at once, to make her house crowded.
After the neighbours came, they were wacthing a film at TPI channel in the living room. The film was interesting because it was Indian Film who star by Syahrul Khan. They were amuse by the film. They were laughing together, shouting together and crying together. The mother didn’t realize that their sounds was waking up her son who was sleeping in the bedroom. The son was crying loudly caused the noisy sounds. But the mother didn’t hear and didn’t care it. She was still wacthing the film with her neighbours.
The son was crying so tight. Lucky, one neighbour heard it and said to the mother, “Hey, your son is crying!”. But the mother still didn’t care and asked to the neighbour to stop the crying boy.
The neighbour walked to the bedroom and tried to keep the boy quiet. But the boy felt that the neighbour was stranger, so he still cried.
“Ow, please... Stop crying, son! You’re a good boy, please shut up!” said the neighbour.
The neighbour was confused by the crying boy. So the neighbour walked back to the living room and said to the mother that her boy won’t to stop cry. The mother said that “You must find a pill, the boy was afraid by a pill. When the boy look it, he will stop his crying.”
Then, the neighbour came back to the bedroom and tried to look at for a pill.  After a few minute, the neighbour found the pill too.
The neighbour showed it to the boy, but the boy didn’t stop crying. The neighbour walked to the boy, but the boy was crying so loudly. The neighbour was trying to keep the boy calm but suddenly... the pill entered the boy’s mouth. And at a second later, much of foam came out from his mouth.
The neighbour was panic! She ran to the living room and talked to the  mother. “Sis, your boy! Your boy...!”
“Why? What happened with my boy? What did you do?” asked the mother, she was panic too.
“I didn’t purposely enter the pill to his mouth! And the foam came out from him!”
“What? What kind of pill that you take?”
“I found it on the top of your bedroom’s door.”
“Oh my God!” shouted the mother. “It isn’t the pill. It’s rat’s poison!” The tears came out from her eyes. She ran to the bedroom, and found her son with critism situation. The other neighbour was panic and crying too. They called an ambulance to take the boy to the hospital. But when in the course to the hospital, the boy stop breath. He died.
The mother was afraid. She was frustation, depretion, and crying so much. When her husband went back to the house and found that incidence, he was very angry. He was really dissapointing by his wife. So, he called the policeman, reported the incidence, and separated his wife.
The mother entered the jail, because of her fault. She always cried in the jail. Didn’t care if it was morning or night, she still cried. She was to be sorry of her son’s death.
Well, we can find five disadvantage from the story.
1. The mother can’t wacth the Indian film till the end.
2. Her son was death.
3. The husband separated her.
4. She entered the jail.
5. God was angry because the mother can’t to look after the boy.
I think, it’s enough for me to tell the story. I hope this story can be a lesson for us.

Sabtu, 18 Juli 2015

TRAGEDI: SI MUNGIL YANG MALANG



SI MUNGIL YANG MALANG
Cuap cuaaapp~ Ada yang kangen dengan saya? Semoga gak ada ya, karena saya udah kangen sama seseorang.*cieelah -___-
Kita bertemu lagi di serial tragedi!!! Yeay*rame sendiri* Kali ini gue mau bawain tragedi yang mengendap di otak gue. Lebih tepatnya, tragedi ini menimpa temen sekelas gue(dan gue terlibat di dalamnya). Kalau dipikir-pikir lagi nih, tragedi ini tuh gak akan terjadi kalau gue gak terlibat. Tapi apa daya, nasi sudah diproses di dalam lambung dan sudah disekresikan dengan baik, so... enjoy aja yep!^^
Kejadian ini menimpa temen SMP gue. Sebut saja anak yang tak berdosa itu dengan sebutan “Si mungil”. Kenapa gue nyebut gitu? Karena gue lupa sama namanya dan gue cuma inget kalau dia tuh kecil-kecil cabe bendot. Mungkin itu adalah kejadian paling memalukan dan menyakitkan dalam hidupnya. Terbukti kalau dia mengaduh kesakitan pas udah kejadian itu.
Jadi kronologisnya gini... Kita sekelas, kelas sembilan, berbeda gender, gak terlalu deket, tapi dia suka ngajak bercanda, dan gue selalu cuekin dia. Maklum, gue udah punya tabiat jutek itu dari lahir, jadi susah dirubah. Bayangin aja, kalo bayi yang baru keluar dari rahim ibunya langsung nangis kejer, lha gue mah pas berojol malah masang tampang cemberut*ini boong*. Mana kata nyokap waktu itu idung gue pesek lagi -_- Tapi alhamdulillah, sekarang udah agak mancungan kok! Dan semua itu berkat alat yang super canggih dan tidak ada duanya, yaitu.... jepitan baju! *krik krik*
Balik ke topik Si Mungil. Jadi waktu itu bel udah bunyi. Otomatis anak-anak yang lagi pada istirahat pun kembali lagi ke kelas untuk menyimak pelajaran selanjutnya. Kalau gue balik ke kelas buat tidur^^(engga ding, pas SMP gue gak pernah bobo di kelas).
Seorang guru pun masuk ke kelas gue. Gue lupa lagi waktu itu pelajaran apa. Yang jelas, gue cuma inget kalau anak-anak kelas gue belum lengkap. Jadi ada yang telat masuk gituloh...
Setelah beberapa menit pelajaran berlangsung, tiba-tiba munculah tiga demit dari balik pintu kelas dan meminta izin untuk masuk. Sebelum itu mereka juga minta maaf gara-gara telat masuk kelas. Karena wajah ketiga temen cowok gue itu pada melas, akhirnya sang guru pun merasa iba dan mengizinkan mereka semua untuk masuk.
Jeng jeng jeng... Di saat itulah otak jail gue mulai bekerja. Gue duduk di bangku paling belakang*kalo gak salah* di ujung sebelah kiri. Dan ketiga temen gue itu duduk di ujung sebelah kanan yang sama-sama nempel ke tembok. Dan beruntungnya gue hari itu*Thanks God*, mereka masuk ke kelas pake lari-lari dan...... ngelewatin bangku gue.
Kepala gue yang udah dipenuhi sama aura devil pun akhirnya membuat gue, mau gak mau menjulurkan sebelah kaki gue untuk menghadang pelarian mereka. Pas gue julurin itu kaki, gak kena! Anak pertama lolos dari perangkap gue. Yang kedua? Lolos juga! Dan untuk yang ketiga, gue pun menjulurkan kaki gue lebih panjang lagi. Dan alhasilll...
GEDEBLUG...!
“Awww...”
Jackpot! Si Mungil kena woy!
Sumpah gue pengen ketawa saat itu juga. Anak-anak lain yang mendengar rintihan dari si mungil pun pada celingak-celinguk sambil nanya, “Ada apa? Ada apa?”
Gue yang notabenya sebagai akar dari kejadian tersebut cuman bisa nyengir-nyengir babi. Pasalnya, puas banget gue ngejailin orang. Tapi gue serasa gak tega juga sama si mungil. Soalnya, pas gue noleh ke belakang, si mungil tuh masih terkapar gitu sambil nahan rintihan*ini beneran loh, dia kayak mau nangis gitu*. Omg mungil, gue jadi ngerasa bersalah. Udah kesandung, kejedot tembok pula. Argghhh, gue waktu itu gak nyadar kalau bangku gue tuh jaraknya se-meteran gitu dari tembok. Dan efek dari kesandungnya-kaki-si mungil-sama-kaki-gue adalah dia kena efek kayak mau terbang gitu dan berakhir dengan ciuman mesra dari tembok. Huaaa... gue jadi ngerasa bersalah... Hiks hiks. Tapi gue pengen ketawa juga, huahaha*ketawasetan*.
So, buat si mungil yang dulu pernah gue jailin ampe kejedot tembok, gue mau minta maaf ya... Karena gue sadar waktu itu gue belum minta maaf, habisnya gue keasyikan ngetawain elu sih. Pokoknya kalau lo baca postingan ini, semoga lo mau maafin semua kesalahan gue yaaa*kedipkedip*. Dan satu lagi. Semoga elo gak nyesel karena pernah satu kelas sama gue. Hahaha... *EvilLaugh*
See yaaa... mumumu~
Tertanda: Makhluk gaib keturunan Buzz Lightyear yeahh... @afPhantom0902

Biar Kayak Orang (?)

Assalamu'alaikum guys~~~ mumumu~
Ada yang rindu dengan makhluk Tuhan paling seksi keturunan Buzz Lightyear ini? *plak
Well dear, postingan kali ini mungkin gak akan jauh dari ocehan dan celotehan gue yang gak penting...
Di sini gue cuma mau bilang HAPPY IED MUBARAK 1436 H!!!!! *yeay~
Setelah berjuang selama satu bulan berpuasa, akhirnya kita bisa bertemu dengan hari kemenangan ^^

Di hari yang suci ini, I just hope that I can be better and better... More kind, more of charming, more clever, and more high >,< yaa gue selalu berharap tinggi badan gue bisa lebih dari seratus enam puluh :v

Well guys, kayaknya gue cuma mau ngepost ini doang. Untuk selanjutnya, gue bakal ngepost tulisan-tulisan absurd dan gaje untuk meramaikan blog ini *meskipun gue tahu blog ini gak famous*
But yeah, hidup ini serasa asik kalau lo punya blog sendiri *apa hubungannya-_-*

For last word, HAPPY IED MUBARAK~~ mumumu^^

FF Jikook BTS Still Dancing Part 3



Hai, hai~ Gue balik lagi bawa lanjutan dari ff jikook :v lol well, this is just a fiction. Don't be too serious guys~
.
Main Cast: Jimin BTS
             Jungkook BTS
             Lee Yeon Hee SM Ent.
.
.
.
Prev>>Jungkook berlutut di depan Yeon Hee, sedang kedua tangannya menggenggam telapak tangan yeoja itu.
“Jadilah pacarku, noona. Saranghae~” ucap Jungkook sambil mencium tangan Yeon Hee.
.
.
.
.
“Terima dia Yeon Hee!”
“Aaaa so sweet....!!”
“Kalau aku jadi kau aku akan langsung menikahinya!!”
“Mwoya!” teriak Yeon Hee saat mendengar sorakan teman-temannya.
Yeon Hee mematung. Ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Moment-moment seperti ini sering ia dapatkan. Dan rasanya... selalu sama. Tak ada getaran yang berhasil melumpuhkan hatinya. Ia menatap Jungkook lekat. Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya sempurna! Dan sepasang mata bulat itu kini tengah menatapnya penuh harap. Ah, haruskah ia menerima pernyataan cinta si ‘berondong’ ini?
“Noona, saranghanda~” ucap Jungkook lagi. Kali ini lebih lembut.
Yeon Hee melihat sekelilingnya. Semua teman yeojanya kini mengerumuni Yeon Hee. Mereka bersorak histeris. Ada yang berteriak bahagia, ada juga yang berteriak sambil menangis karena ‘kecengan’ mereka kini tengah membuat sebuah pernyataan cinta. Itu berarti mereka tidak akan bisa ‘nangkringin’ si berondong kalau dia sampai jadian dengan Yeon Hee.
Yeon Hee memutar bola matanya. Sungguh, meskipun Jungkook memasang wajah imutnya, itu tak berhasil meluluhkan hati Yeon Hee. Hati gadis itu sudah terpaut dengan segudang rumus Matematika/?
“M-mian...” ucap Yeon Hee pelan. Sangat pelan.
“Mwo? Apa noona? Kau mengatakan apa tadi?” tanya Jungkook dengan wajah polos.
“Hhh...” yeoja itu mengeluh. “M-m¾”
“Noona!”
Semua orang langsung tersentak, termasuk Yeon Hee. Gadis itu menatap daun pintu. Di sana, Jimin berdiri dengan mata tajam. Rahang namja itu mengatup keras.
Jimin berjalan mendekati Jungkook, lalu melepaskan pegangannya pada tangan Yeon Hee dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung melayangkan sebuah tinju tepat di hidung Jungkook. Alhasil, hidung mulus dan mancung/? itu mengeluarkan darah.
“Jimin-ah! Apa yang kau lakukan?” bentak Yeon Hee. Ia langsung meraih Jungkook yang sedang mengerang kesakitan. “Jungkook-ssi, neon gwaenchana? Eoh?”
Melihat adegan tersebut, tentu saja emosi Jimin semakin meninggi. Ia memukul Jungkook karena ia tak rela jika noonanya diambil oleh namja lain. Dan sekarang, noona kesayangannya itu malah memedulikan Jungkook? Apa-apaan ini!
“Jimin-ah, neo pabboya!” umpat Yeon Hee tertahan.
Gadis itu membopong Jungkook keluar kelas. Sedangkan Jimin, ia mematung. Hatinya benar-benar sakit. Bagaimana mungkin noonanya hanya memedulikan Jungkook? Kenapa Yeon Hee tak memedulikan dirinya?
Kepala Jimin tertunduk. Saat ini, perasaannya benar-benar kacau. Salahkah ia karena memukul Jungkook? Salahkah? Ia hanya tidak ingin orang yang dicintainya direbut oleh orang lain. Ia hanya tidak ingin Yeon Hee diambil oleh siapa pun. Tapi Yeon Hee? Yeoja itu malah mencampakannya dan lebih memedulikan Jungkook? Kenapa harus seperti ini? Kenapa rasanya sakit sekali?
***
“Jungkook-ssi, neo gwaenchana?” tanya Yeon Hee setelah mengobati hidung Jungkook yang berdarah.
“Nan gwaenchana noona, jeongmal gwaenchana,” balas Jungkook ceria.
“Aku benar-benar minta maaf atas perlakuan Jimin padamu. Aku benar-benar menyesal.”
“Ani~” sela Jungkook cepat. “Seharusnya aku yang minta maaf. Mungkin, namja tadi cemburu padamu.”
Yeon Hee menghela napas. Ia menatap Jungkook, tidak, lebih tepatnya... ia menatap hidung namja itu.
“Neo jinjja gwaenchana?” ulang Yeon Hee, ia sangat khawatir.
“Ne,” ujar Jungkook ceria. “Melihat noona yang begitu mengkhawatirkanku, aku jadi lebih baik.”
“Ah... Syukurlah,” ujar Yeon Hee. “Kalau begitu, aku pergi dulu, ya...”
Yeon Hee hendak meninggalkan ruang UKS. Tapi lengannya langsung ditahan oleh Jungkook.
“Noona, kkajima~” rengek namja itu manja. Ya, meskipun rengekan itu terdengar menjijikan, tapi hati Yeon Hee tersentuh juga. Ia kembali membalikkan tubuhnya ke arah Jungkook.
“Wae? Aku ada kelas olahraga hari ini,” jelasnya selembut mungkin. Tapi tetep aja, nada bicara Yeon Hee mah ketus mulu >_<
“Geundae noona, nan jeongmal appo. Tak bisakah kau menemaniku di sini, eoh?”
“Andwae. Aku sibuk Jungkook-ah. Lagi pula hidungmu sudah tak apa-apa, kan?”
“Geurae~ Tapi tetap saja ini menyakitkan!” rengek Jungkook lagi. Kali ini ia menampilkan puppy eyes-nya. Dan itu membuat Yeon Hee berpikiran, “Kau memang anak kecil!”
“Arraseo, arraseo~” ucap Yeon Hee akhirnya. “Aku akan menemanimu.”
“Mwo? Jinjja?” Jungkook hampir melompat dari kasur UKS saat mendengar perkataan Yeon Hee.
“Beristirahatlah sebelum aku berubah pikiran.” Yeon Hee duduk di kursi dekat kasur UKS. Ia melipat kedua tangannya di dada.
Sementara Jungkook, namja itu masih tersenyum lebar di atas kasurnya. Ch, ini memang alay. Hidungnya yang terluka, tapi namja itu malah berbaring di kasur UKS seperti maling yang habis dikeroyok massa/? Dasar bocah -_- Tapi semua itu Jungkook lakukan bukan tanpa alasan. Setelah mendapatkan bogem dari Jimin, ia hanya ingin yeoja yang ia cintai menemaninya. Yah... setidaknya sampai rasa pedih di hidungnya berkurang.
#JungkookPOV
“Noona, gomawo~” gumamku pelan. Aku kembali membaringkan diri di atas kasur UKS. Uh, rasanya tidak enak! Pihak UKS harus segera mengganti kasur bulukan ini. Tapi bagaimanapun, dengan adanya Yeon Hee noona di sisiku, aku jadi merasa nyaman. Terlebih, aku bisa menyaksikan wajah cantiknya yang kini terpejam di hadapanku.
Mwo? Yeon Hee noona tertidur? Baru beberapa menit ia duduk di kursi itu dan ia sudah tertidur? Aigoo~ Padahal banyak yang ingin aku tanyakan pada noona. Aku ingin menanyakan tentang perasaannya padaku. Aku juga ingin menanyakan apakah ia menyukaiku atau tidak. Aku juga penasaran apakah sebenarnya ia diam-diam(?) menyukaiku? Ngg... tidak salah kan jika aku berpikir seperti itu? Tapi ada satu hal yang benar-benar membuatku terasa terbebani saat memikirkannya.
JIMIN! Ya, namja itu! Kenapa dia memukulku? Apa ia punya hubungan yang spesial dengan Yeon Hee noona? Apakah mereka sepasang kekasih? Aigoo~ itu tidak mungkin! Maksudku, secara fisik aku lebih unggul daripada si Jimin itu. Bahkan aku lebih tinggi darinya!
#AuthorPOV
Jungkook kemudian mempoutkan bibirnya. Ah, neomu kyeopta! Tapi sungguh, kali ini Jungkook benar-benar kesal dengan seseorang yang bernama Jimin.
‘Jimin? Eoh? Siapa dia? Kenapa dia selalu mengacaukan rencanaku?’ batin Jungkook berapi-api. Ia kesal dengan namja itu. Saaaangat kesal! Seharusnya jika ia mencintai Yeon Hee noona, ia harus bersaing dengan Jungkook secara sportif. Bukannya main nonjok idung orang. Kalau idung Jungkook jadi pesek gimana coba? Kan gak cakep lagi.... *paan sih -_-*
Kembali ke Jungkook~ :v
Ia masih mempautkan bibirnya kesal. Sekilas, ia melirik ke arah Yeon Hee yang sedang terlelap di kursi UKS.
“Cantik,” gumam Jungkook. Dan itulah alasannya kenapa ia mencintai yeoja itu. Yeon Hee noona cantik. Dan Jungkook pikir, yeoja itu terlalu cantik untuk menjadi pacar Jimin.
“Ya, dia tak pantas menjadi namjachingumu noona,” ujar Jungkook lagi.
Rasa kedutan(?) di hidungnya kini menghilang. Melihat wajah yeoja yang dicintainya, itu sudah cukup sebagai obat.
“Noona, neomu joahae~” ucap Jungkook. Ia memejamkan matanya seraya tersenyum senang.
***
“Noona, mianhae, eoh? Maafkan aku, ya? Ya, ya, ya?”
Jimin berusaha menarik perhatian Yeon Hee dengan beraegyo di depan yeoja itu. Tapi ekspresi Yeon Hee tetap sama. Datar. Dan itu membuat Jimin jadi mumet sendiri. Entah ucapan ‘maaf’ ke berapa kali yang telah ia lontarkan. Tapi Yeon Hee tetap teguh pada pendiriannya. Ia mengabaikan Jimin. Apa? Mengabaikan? Tidak! Mungkin lebih tepatnya, mencampakan? Atau malah membuang Jimin?
“Noona~” lirih Jimin lagi. Kali ini ia tidak menunjukkan puppy eyesnya. Ia sudah menyerah. “Kenapa kau begitu marah? Aku kan tidak sengaja. Lagipula aku sudah meminta maaf berkali-kali. Kenapa kau masih mengabaikanku noona? Eoh? Waeyo? Aku bisa gila jika diperlakukan seperti ini...” ujar Jimin panjang lebar.
Mereka tengah duduk di bangku taman sekolah-tempat yang dulu selalu mereka gunakan untuk bercanda. Jimin menggenggam erat lengan Yeon Hee. Ia tidak ingin noona kesayangannya itu pergi tanpa memaafkannya.
“Seharusnya kau tidak minta maaf padaku,” ucap Yeon Hee datar. Ah, betapa senangnya Jimin saat mendengar suara malaikat(?) itu. “Seharusnya kau meminta maaf padanya,” dagu Yeon Hee sedikit terangkat, menunjuk ke sebuah arah.
Jimin mengikuti ke mana dagu itu menunjuk. Dan dagu Yeon Hee menunjuk seorang namja yang tengah bercanda dengan teman-temannya.
“Mwo? Dia?” mata Jimin membulat. “Shirreo! Aku tidak akan meminta maaf padanya!”
Pletak! Sebuah bogem mendarat dengan mulus di dahi Jimin.
“Pabbo!” seru Yeon Hee. “Sejak kapan sikapmu jadi seperti ini? Dasar tidak tahu malu!”
“Geundae noona¾”
“Ppali! Minta maaf padanya! Lagipula, dialah orang yang kau sakiti! Bukan aku!” seru Yeon Hee. Gadis itu hendak bangkit dari duduknya tapi tangan Jimin segera mencegah Yeon Hee.
“Arraseo, arraseo~ Aku akan meminta maaf padanya.” Jimin menyerah. Ia lebih rela harga dirinya turun daripada harus kehilangan Yeon Hee.
“Kenapa kau masih diam di sini? Cepat sana minta maaf!” seru Yeon Hee kesal.
“Mwo? Jigeum?”
“Apa kau mau menunggu rambutku memutih dulu?” oke, Yeon Hee mulai lebay. “Ya sekarang lah! Cepat sana!”
Jimin mendesah. Ia menggaruk-garuk tengkuknya. Ah, haruskah ia melakukan semua ini? Haruskah ia meminta maaf pada Jungkook? Si bocah ingusan? Melihat ekspresi Yeon Hee yang suram, Jimin pun melangkahkan kakinya ke arah Jungkook. Meskipun ragu, meskipun harus menanggung malu, ia rela. Ini semua demi Yeon Hee! Ya, ini semua demi Lee Yeon Hee!
***
Bulan sabit mulai menggantung di atas langit malam. Hembusan angin musim gugur berhasil membuat Jimin bergidik. Namja itu termenung di balkon kamarnya. Segelas cokelat panas selalu setia menemani hari-hari Jimin. Mungkin lebih tepatnya, hari-hari sial Jimin.
Ya, hari ini ia sedang sial! Dan hanya cokelat panaslah yang mampu melenyapkan kegundahan hatinya.
Ia meneguk cokelat panas itu perlahan.
“Saranghae Jimin-ah!”
Gluk!
“Uhuk...uhukk.” Jimin tersedak. Segera ia memijat tenggorokkannya yang sakit. Apa yang sedang ia pikirkan? Kenapa kata-kata itu terus terngiang di telinganya?
“Saranghae Jimin-ah!”
Lagi. Kenapa suara itu terus menghantuinya? Kenapa kalimat itu harus muncul? Kenapa? Wae~~~?
Jimin merutukki dirinya. Mug berisi cokelat panas kini entah ke mana. Ia hanya menundukkan kepala dalam-dalam seraya mengacak-acak rambutnya.
“Dasar pabbo! Micheosso! Jinjja micheossooooo!” teriaknya keras.
Jimin mulai mengacak-acak lagi rambutnya. Ia benar-benar frustasi. Saking frustasinya, namja itu kini mengguling-gulingkan tubuhnya di balkon. Ah, sungguh. Malam yang indah.
Flashback~
Jimin pun melangkahkan kakinya ke arah Jungkook. Meskipun ragu, meskipun harus menanggung malu, ia rela. Ini semua demi Yeon Hee! Ya, ini semua demi Lee Yeon Hee!
Tap tap tap~ Namja itu semakin mempercepat langkahnya. Kini, ia hanya berjarak beberapa meter dari Jungkook and the gang :v Melihat keadaan mereka yang sedang tertawa, Jimin jadi merasa tidak tega. Ia tak mau merusak momen manis tersebut*bilang aja males minta maaf sama Jungkook*. Oke, abaikan kenaifan Jimin. Yang jelas, namja itu akan meminta maaf kepada Jungkook demi Yeon Hee. Ya, demi Yeon Hee.
Kini jarak antara Jimin dan Jungkook hanya satu meter(setengah). Perlahan, teman-teman Jungkook mulai menghentikan tawa mereka. Ya, tatapan-tatapan aneh mulai menyoroti Jimin. Namja itu mulai risih. Ekspresinya cukup menunjukkan bahwa, “Ngapain sih liat-liat!”
Tapi tentu saja hal itu tidak bisa didengar oleh teman-teman Jungkook. Karena itu merupakan pemikiran Jimin sendiri. Ya, ia bicara pada dirinya sendiri. Jimin mulai membuka mulutnya. Ia berniat untuk berkata “Mianhae”. Tapi, kenapa mulutnya terasa gatal untuk mengucapkan kata itu? Dengan sekuat tenaga, dengan segenap jiwa raga, Jimin mulai mengumpulkan energi agar bisa mengucapkan salah satu kata sakral dalam hidupnya.
“Ju...jungkook?” berhasil! Jimin berhasil mengucapkan nama Jungkook. Dan sekarang, kata-kata sakral itu...
“Saranghae Jimin-ah!”
“Mwo?” Jimin langsung membelalakkan matanya. Apa yang barusan ia dengar? Apa yang Jungkook bilang tadi?
“Saranghae Jimin-ah!” ulang Jungkook, lantang.
Tentu saja hal itu membuat mata Jimin semakin membulat. Jimin memegang jantungnya.*eeaa* Ia takut jantung satu-satunya itu mendadak copot. Because seriously, he’s surprised!
Jimin menggelengkan kepalanya cepat. Apaan-apaan ini? Apakah bocah ingusan itu gila? Karena perasaannya yang tak karuan, Jimin pun berlari dari taman itu. Ia benar-benar ketakutan.
‘Setelah ia menembak Yeon Hee noona, ia juga mau menembakku? Chh... Yang benar saja! Apa anak itu gay?’ batin Jimin.
Flashback Off~
#JiminPOV
Ah, aku benar-benar gila. Kenapa aku terus memikirkan hal itu? Perkataan Jungkook~ Aigoo sialan! Apakah dia seorang yaoi? Tapi mungkin saja dia hanya mengagumiku, kan? Aku kan tampan. Jadi wajar saja kalau... Aish, kepalaku kenapa, sih? Kenapa kau jadi seperti ini?
Aku memukul pelan kepalaku berkali-kali. Setelah berguling-guling di balkon, aku merasa otakku belum beres juga. Makanya aku langsung masuk ke kamar dan berbaring di atas kasur*apa hubungannya -_-*
Kook... kook... Kenapa perkataan ente kebayang terus, sih? Terus ekspresi ente pas bilang “Saranghae Jimin-ah!”, itu lucu bangeeettttt....
Ya ampun! Sadar Jimin! Apa tadi yang otakmu bilang? Dia lucu? Lucu darimananya? Ish... Aku benar-benar sudah gila!
Keesokkan harinya~
#AuthorPOV
Jimin melangkahkan kakinya memasukki gerbang sekolah. Namja itu terlihat lesu. Terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya. Sesekali ia menguap, menikmati rasa kantuk yang sejak tadi menggandrunginya.
Semalaman, Jimin tak bisa tidur. Entah kenapa, perkataan Jungkook kemarin membuatnya stres. Ia beranggapan bahwa Jungkook itu adalah gay. Maka dari itu, Jimin langsung mencari informasi apa pun mengenai gay. Mulai dari ciri-cirinya, penampilannya, cara bicara seorang gay, makanan favorit gay, warna kesukaan gay, pokoknya hal apa pun yang berkaitan dengan gay, Jimin telah mendapatkannya! Dan sekarang, satu hal yang membuatnya penasaran.
“Jika Jungkook seorang yaoi, kenapa bocah itu menyatakan cinta kepada Yeon Hee noona?” batin Jimin.
Ya... jujur saja. Ia telah dibuat penasaran oleh seorang Jeon Jungkook. Mungkinkah Jimin mulai tertarik pada bocah yang menurutnya ingusan itu? Oh~ ayolah... Mana mungkin Jimin menyukai sesama jenis. Ia mencari informasi tentang Jungkook dan gay karena ia penasaran. Apakah Jungkook itu benar-benar gay dan bermaksud mempermainkan Yeon Hee? Ataukah namja itu menyukai pria dan wanita? Jadi, Jungkook itu sebenarnya manusia macam apa?
Kini kaki Jimin mulai melangkah melewati lapangan basket. Ia melirik lapangan tersebut. Hhh... sudah lama ia tidak latihan basket. Semenjak kakinya terkilir, Jimin vacum untuk beberapa hari. Dan jujur, itu membuatnya kesepian.
“Hei, Jimin!” seru seseorang.
Jimin melirik ke sumber suara. “Oh, Yoongi hyung!”
“Yak, kenapa kau jarang latihan basket, eoh? Pelatih selalu menanyakanmu. Sebentar lagi akan ada perlombaan antarsekolah. Kita harus benar-benar latihan...”
“Ah, mianhae hyung. Naega~”
“Suga hyung!” tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka berdua.
Saat menyadari siapa yang datang, mata Jimin langsung membulat.
“Yak, Jeon Jungkook! Long time no see~” ucap Yoongi seraya melakukan high five dengan Jungkook.
Jimin mematung. Jantungnya tiba-tiba berdegup tak karuan. Perasaan takut kini menjalar di seluruh tubuhnya.
“Suga hyung, nanti sore kita ada latihan lagi. Jangan lupa datang, ya~” kata Jungkook seraya tersenyum.
“Mwo? Su-suga?” Jimin tak bisa menyembunyikan keheranannya. Jeon Jungkook, ia memanggil Min Yoongi dengan kata Suga? Apa itu? Dan... sejak kapan mereka saling kenal? Kenapa mereka terlihat akrab?
“Oh, annyeong Jimin sunbae! Kau di sini juga?” ucap Jungkook.
Jimin mengernyitkan dahi. Emang dari tadi gue di sini kali... batinnya :v
Jimin hanya mengangguk kikuk.
“Geurom hyung, aku ke kelas dulu, ne?” ujar Jungkook yang disambut dengan sebuah anggukan dari Min Yoongi.
“Kau kenal dia juga, eoh?” tanya Yoongi setelah Jungkook pergi.
“Oh? N-ne~” jawab Jimin. “Geundae hyung, kenapa kau bisa mengenalnya? Lalu, kenapa dia memanggilmu Suga?”
“Ah, keugae... Kami memang akrab. Aku mengenalnya karena kita mengikuti sebuah klub dance yang sama. Dan ‘Suga’, aku tidak tahu kenapa ia memanggilku seperti itu. Tapi Jungkook bilang aku manis, seperti sugar~” jelas Yoongi kalem.
Jimin semakin menautkan dahinya. ‘Jungkook bilang Min Yoongi manis? Seperti sugar? Ah~ tidak salah lagi! Ini adalah salah satu ciri dari seorang gay!’
“Kalau begitu, aku masuk ke kelas dulu, hyung,” ucap Jimin.
“Arraseo.”
***
Saat jam istirahat, di kantin sekolah...
“Noona, kau masih marah padaku, eoh?” tanya Jimin khawatir.
Yeon Hee tak mengacuhkan pemuda itu. Ia asyik berkutat dengan baso aci kuah cabenya *eea*. Bibir yeoja itu sudah memerah. Mungkin gara-gara ia memasukkan banyak cabe ke kuah basonya.
“Noona, jawab aku~” rengek Jimin manja. Ia mengeluarkan aegyo andalannya supaya mendapat perhatian dari Yeon Hee. Tapi sekeras apa pun Jimin berusaha, sepertinya jurus andalan itu tidak mampu untuk meluluhkan hati noonanya.
“Mwoya!” gerutu Yeon Hee. Ia tidak tahan karena Jimin terus mengganggunya.
“Noona, aku sudah mencoba untuk meminta maaf kepada anak ingusan itu. Geundae, anak itu bersikap aneh! Aku takut noona~” rengek Jimin lagi.
“Bersikap aneh?” dahi Yeon Hee mengerut. “Satu-satunya anak yang bersikap aneh itu adalah kau!” umpat Yeon Hee seraya mengetuk dahi Jimin dengan sendoknya.
“Aigooo~ appo! Nan geotjimal anieyo. Nan jinjjayo~! Si Jungkook itu bersikap aneh noona!”
“Aish, sudahlah Park Jimin! Waktu istirahat hanya tiga puluh menit, dan kau membuang dua puluh menit waktu istirahatku dengan celotehanmu itu! Kau benar-benar pengganggu!”
Jimin langsung bungkam. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. ‘Yeon Hee noona marah-marah? Sejak kapan?’
“Ng... noona, kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Jimin pelan. Ia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Wae?!” ujar Yeon Hee dengan nada tinggi.
“Dari tadi kau memarahiku. Tidak seperti biasanya,” ucap Jimin. “Mungkinkah... noona sedang kedatangan tamu?”
“Mwo?!”
.
.
TBC :v
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo