Senin, 29 Maret 2021

THE PENTHOUSE Season 2 Episode 12 : OH YEON HEE BUNUH DIRI?

 


The Penthouse merupakan drama yang sedang digandrungi baru-baru ini. Karena jalan ceritanya yang menarik dengan banyak plot twist tak terduga, membuat setiap episode dari drama ini selalu mencapai rating tertinggi. Bercerita tentang kehidupan orang-orang terkaya yang tinggal di sebuah gedung apartemen seratus lantai, Penthouse menyajikan berbagai konflik yang berhasil membuat penontonnya sakit kepala.

Season pertama dari drama ini dirilis pada tanggal 26 Oktober 2020, dengan jumlah episode sebanyak dua puluh satu episode. Drama yang ditulis oleh Kim Sun-Ok dan disutradarai oleh Joo Dong Min ini berhasil mengambil hati penonton setelah menayangkan season pertamanya.

Shim Su Ryeon, yang diperankan oleh Lee Ji-Ah, merupakan wanita cantik dan elegan yang lahir dari kalangan papan atas dan keluarga kaya, adalah istri dari Joo Dan Tae (Uhm Ki Joon), pemilik apartemen Penthouse mewah yang berada di lantai ke 100. Joo Dan Tae sendiri merupakan pebisnis sukses yang berkecimpung dalam dunia real estate.

Cheon Seo Jin, yang diperankan oleh Kim Seo Yeon, juga lahir dari keluarga kaya pemegang perusahaan Cheong A Group. Selain itu, dia merupakan seorang diva soprano yang sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang karena suara emasnya. Suaminya yang bernama Ha Yoon Cheol (Yoon Jong Hoon), adalah seorang dokter bedah di sebuah rumah sakit umum.

Di sisi lain, Oh Yeon Hee yang diperankan oleh Eugene, merupakan seorang single parent dengan latar belakang kehidupan yang miskin. Sebagai agen penjual rumah, ia berusaha keras untuk menjamin kesuksesan anak gadisnya, Bae Ro-Na. Keinginan keras Bae Ro-Na untuk masuk ke SMA Seni Cheong A dan menjadi seorang penyanyi soprano, menjadi awal dari semua konflik yang terjadi di Istana Hera Palace.

Di season satu ini, penonton berhasil dibuat emosi dengan terjadinya perselingkuhan antara Cheon Seo Jin dan Joo Dan Tae. Kematian Min Seol A dan beberapa plot twist yang mengikutinya juga berhasil membuat netizen ikut menebak-nebak ending dari cerita ini. Namun, penulis Kim Sun-Ok ternyata memang benar-benar tidak bisa ditebak, gengs. Setiap episode yang ditayangkan pasti jauh dari terkaan para penonton. Season satu ini juga diakhiri dengan kematian Shim Su Ryeon, sang ratu penthouse.

Tetapi di season dua ini, pemirsa juga dibuat sakit kepala dengan cerita yang semakin memanas dan konflik yang terus berdatangan. Dirilis pada tanggal 19 Februari 2021, Penthouse season 2 kembali menjadi drama yang menempati rating tertinggi.

Perselingkuhan Cheon Seo Jin dan Joo Dan Tae yang berlanjut ke sebuah pernikahan, ternyata membuat Oh Yeon Hee dan Ha Yoon Cheol merencanakan sebuah pembalasan dendam. Selain itu, kematian Bae Ro-Na, dan kemunculan kembali Shim Su Ryeon dengan nama Na Ae Gyeo, berhasil mengungkapkan berbagai misteri dan rahasia di balik kejahatan Joo Dan Tae selama ini.

Shim Su Ryeon, yang dibantu oleh Logan Lee dan Oh Yeon Hee, berhasil menjebak Joo Dan Tae dengan beberapa tuduhan kejahatan yang menyebabkan pria itu akhirnya ditahan di sel penjara. Sedangkan Cheon Seo Jin yang tadinya membantu Oh Yeon Hee, baru menyadari bahwa ternyata ia juga dijebak.

Oh Yeon Hee yang kala itu belum mengetahui fakta bahwa Bae Ro-Na masih hidup, memutuskan untuk menghilang dari hadapan Logan Lee dan Shim Su Ryeon setelah aksi balas dendam mereka terhadap Joo Dan Tae terlaksana. Ia meninggalkan surat untuk Shim Su Ryeon dan Ha Yoon Cheol (cinta pertamanya), berniat untuk pamit dan menebus dosanya karena telah menjadi pelaku pembunuhan Min Seol A.

Pada scene episode 12 season 2 ini, Oh Yeon Hee terlihat sedang berjalan di pinggir jembatan Sungai Han. Ia berdiri di depan pagar pembatas, menatap sebentar ke arah hamparan air yang dinaungi awan malam, membiarkan syalnya terbang tertiup angin. Lalu saat sebuah kereta lewat, sosok Oh Yeon Hee sudah tak terlihat di pinggir pagar pembatas tersebut. Apakah Oh Yeon Hee memutuskan untuk bunuh diri? Apakah ibu satu anak itu melompat melewati pagar pembatas?

Jujur, setelah nonton adegan ini, saya sangat berharap bahwa Oh Yeon Hee tidak akan melakukan tindakan bodoh itu dan hidup bahagia kembali bersama Bae Ro-Na. Tetapi mengingat bahwa dia adalah pembunuh dari Min Seol A, anak dari Shim Su Ryeon, sangat tidak adil jika Oh Yeon Hee memiliki akhir yang bahagia sendirian.

Lalu, bagaimana nasib Oh Yeon Hee selanjutnya? Apakah ia akan selamat dan menebus dosanya di dalam penjara bersama Joo Dan Tae? Atau ia akan ditemukan tewas tenggelam di dalam Sungai Han? Bagaimana juga kisah cinta Logan Lee dan Shim Su Ryeon? Apakah akhirnya mereka akan memutuskan untuk bersama?

Episode akhir dari The Penthouse season 2 akan tayang minggu depan!

REVIEW HOTEL DEL LUNA

 


 

Jadi guys, aku baru aja selesai nonton drama yang lagi naik daun ini tadi pagi. Sebelumnya pasti banyak banget dong dari kalian yang bertanya-tanya “apa sih Hotel Del Luna itu?”

Jadi, Hotel Del Luna adalah sebuah Drama Korea yang bercerita tentang sebuah penginapan bulan atau hotel yang dimana seorang pemiliknya telah dikutuk selama lebih dari 1000 tahun untuk mengurus hotel tersebut. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang manager yang diutus oleh dewa agar bisa mengantar pemilik hotel tersebut pergi ke Alam Baka.

Wkwk. Gitu sih kalau sinopsis singkatnya. Pemilik Hotel Del Luna ini adalah seorang wanita bernama Jang Man Wol yang telah melakukan banyak pembunuhan di masa lalu, maka dari itu ia dikutuk oleh Mago (Dewa) untuk menebus perbuatannya.

Drama ini dibintangi oleh:

·        Lee Ji Eun atau IU yang berperan sebagai Jang Man Wol.

·        Yeo Jin Goo sebagai Goo Chan Sung

·        Lee Do Hyun sebagai Go Chung Myung

 

Selain itu, alasan gw nonton drama ini adalah karena ada P.O Block B!!!💖💖💖 P.O atau Pyeo Jihoon berperan sebagai salah satu pegawai hotelnya. Dia cute banget di situ huhu.

Sebenernya drama ini selesai ditonton sekitar tahun 2019, dan coba tebak? File ketikan review ini baru kebuka lagi di tahun 2021 wkwk.

Intinya, drakor genre horor fantasi ini bener-bener meninggalkan kesan yang dalam banget bagi para penggemar, terutama penggemarnya IU. Actually, w juga lupa adegan-adegannya kek gimana wkwk. Karena kesimpulannya hotel ini disediakan untuk jiwa-jiwa yang baru meninggal, sebelum mereka siap untuk pergi ke alam baka.

Oh iya, di sini w baru tahu kalau Lee DoHyun ternyata ganteng banget hwhwhw 

Rate 9/10

Ga sabar buat bikin artikel singkat drama Eighteen Again sama Sweet Home! Yang jelas, di sana ada Lee Do Hyun-nya aaaaaaaaa \(ToT)/

Selasa, 07 Mei 2019

Review Drama Korea - THE GHOST DETECTIVE

 THE GHOST DETECTIVE



Buat para pecinta drakor apalagi yang genrenya horror, pasti udah tau banget dong salah satu drama korea yang satu ini? Dari posternya aja pasti udah keliatan kan kalau drama korea yang satu ini merupakan drama yang mengusung tema "Horror".
Eits ... tapi siapa bilang drama ini cuma bercerita tentang horror aja?
Biar ga penasaran dan biar ada sedikit bayangan pas kamu mau nonton ini, simak yuk review singkat versi aqoooo :3

***
Drama yang ditayangkan pada tahun 2018 ini, mengisahkan tentang sebuah agen penyelidikan yang dijalankan oleh Lee Da Il dan Sang Seob yang akan segera bangkrut. Suatu hari, seorang klien mendatangi mereka dan meminta menyelidiki seorang anak yang hilang. Namun, makin Da Il menggalinya, kasus itu makin aneh. (Sinopsis by Viu)

Pertama kali tertarik buat nonton drama ini adalah sudah pasti karena judulnya. Yang kedua adalah karena pemeran cowoknya. Wkwk maklum ... laper mata .g

Jadi sebelumnya  si Choi Daniel ini a.k.a Lee Da Il itu dulu banget sekitaran taun 2010 pernah main bareng So Ji Sub dalam drama PHANTOM (GHOST) dan berperan sebagai Hades.
Choi Daniel

Nah, kebetulan waktu akhir 2018-an pas buka aplikasi Viu tuh, bingung banget mau nonton drakor apa, dan akhirnya mutusin buat nonton Ghost Detective ini karena ada Choi Danielnya muehehe.

Untuk episode pertama, bener-bener bikin jatuh cinta deh ini drama. Diawali dengan kisah hilangnya anak-anak TK yang kemudian dianggap sebagai sebuah kasus penculikan. Dan ternyata eh ternyata ... kasus ini bukanlah kasus penculikan biasa, melainkan berhubungan dengan roh jahat yang mengendalikan manusia lewat rasa marah dan rasa bersalah yang berlebihan. Singkat kata, gangguan setan lah ya gitu.
Ini dia Sunwoo Hye, setan di The Ghost Detective


Singkat cerita, aku enjoy banget nonton drama ini karena emang dia campur aduk banget sisi 'dark' nya. Jadi dia horornya ada, fantasinya ada, misterinya apalagi.

Cumaaaaaaaannnnnnnnn
Wih panjang banget cuman nya yak -_-

Cuma ya guys, lama-lama kok saya ngerasa ini drama ngebosenin dan terlalu bertele-tele ya -_-

Castnya udah bagus, ganteng sama cantik lah pokoknya, apalagi yang berperan sebagai Sunwoo Hye, dia bisa bikin yang nonton jadi demen sama roh jahat tuh.
Awalnya aku ngira drama ini itu cuma terdiri dari 20 episode guys, eh ternyata dia ada 32 episode. Nah loh mabok gak tuh?

Sebagai orang yang ga sabaran, tentu aja episode segitu kebanyakan buat gue esmeraldah :( Makanya drama ini berhasil bersarang selama berbulan-bulan dari list tontonan saya dan baru saya tamatin hari ini(07/05/2019) dari awal nonton itu sekitar akhir 2018. Nah kan lama banget ya?

Alasan kenapa aku stuck atau jadi males buat nonton drama ini?
Pertama, episode kebanyakan (meskipun satu episode sekitaran 26-30 menit)
Kedua, kebanyakan flashback dan bertele-tele.

Alasan yang kedua itu sih yang bikin aku ngenes banget buat namatin drama ini dalam waktu dekat. Selain banyak menceritakan masa lalu, scene pas kejar-kejaran sama Sunwoo Hye nya itu yang lambat banget, bertele-tele banget. Mungkin maksudnya untuk membuat penonton kesal dan semakin penasaran kali ya ... tapi menurutku kalau kebanyakan juga jadinya aneh gitu lho, kayak sinetron-sinetron '-'

But guys, overall drama ini aku rekomen juga buat kalian pecinta drakor yang seneng buat nonton maraton. Apakah setelah nonton drama ini kalian merasakan hal-hal di atas atau kalian tetep enjoy?
Jangan lupa buat sharing pengalaman kalian di kolom komentar yaaa^^

Thank u for reading, see u next time :*

NB: Oh iya, di Viu drama ini ada 32 episode, cuman di channel KBS nya dia ada 31 episode. Personally gatau deh bedanya apa wkwk. Kalau ada yang tau boleh komen yaa^^

Rabu, 26 April 2017

BEUTYLABO HAIR COLOR REVIEW



.
Halo akhir bulannnn^^ kkk udah lama banget ya rasanya gak update tulisan di blog. Udah lama gak nulis sih, ya, jadi ngerasa kaku gitu kalau mau nulis apa-apa. Jangankan buat nulis cerpen, buat bikin review tentang Beautylabo pun berasa malesss banget >< kkk.
Tapi karena malam ini lagi gabut juga, makanya aku sengaja buat bikin bahasan singkat tentang si pewarna rambut ini. Jadi, ceritanya aku udah lama naksir sama si Beautylabo ini waktu aku liat-liat ke Guardian pas awal januari. Selain kemasannya yang lucu (menurut aku), warna-warna yang disediain sama Beautylabo juga lucu-lucu juga. Seinget aku sih ada warna kayak beige gitu, terus yang kayak candy, sama warna orange-orange gitu. Nah kebetulan pas gajian bulan kemarin, aku liat-liat lagi tuh ke Guardian dan beruntungnya si Beautylabo ini lagi diskon lho! Diskonnya 15% gatau 35% deh lupa lagi, pokoknya dapet potongan nyampe limabelas ribu lah. Then, aku pun milih warna natural blonde buat jadi bahan percobaan.



Biasanya aku warnain rambut kalau gak pake shasha, pasti pake miranda. Maklum lah ya, harga nyaman wkwk. Tapi karena penasaran akhirnya pewarna rambut ini pun dibeli juga.
Yang aku suka dari Beautylabo ini karena dia itu beda dari pewarna rambut yang lain. Jadi dalam satu pack Beautylabo bakal ada 1 krim pewarna, 1 krim developer, 1 aplikator, 1 pasang sarung tangan plastik, sama 1 kertas intruksi pemakaian.

Dan yang bikin waw nya itu adalah dalam satu kertas intruksi, terdapat empat bahasa dong sist>< ada bahasa thailand, vietnam(kalau gak salah), inggris sama indonesia. Awalnya sempet kaget karena tulisannya huruf Thai semua, tapi pas dibalik untuk ada bahasa indonya kkk.

Enaknya pake Beautylabo ini karena kita gak perlu ribet-ribet pake alat semir rambut/sisir buat ngaplikasiinnya. Cara nyampurin krimnya juga gampang banget. Kita tinggal masukin krim pewarna ke dalam krim developer yang ada di dalam botol. Terus tinggal dikocok-kocok gitu.


   
Warna krimnya juga lucu, kayak mentega wkwk. Tapi pas udah nyampur sama developernya, warnanya berubah berangsur-angsur jadi coklat terus jadi ungu kehitaman gitu. Teksturnya juga lebih cair dari krim pewarna yang pernah aku pake sebelumnya. Kalau dari bau, bau krim pewarnanya gak kecium pas diaplikasiin. Tapi kalau dideketin ke idung, baunya hampir sama kayak miranda.
Cara pemakaiannya, kita tinggal pake sarung tangan, terus ratain krimnya gitu di rambut kita (kayak waktu pake kondisioner). Tapi emang harus bener-bener merata supaya hasilnya juga jadi lebih bagus. Kalau kata kertas intruksinya sih, biarkan selama 30 menit kalau pemakaiannya pewarna rambutnya udah selesai.
Nah dalam pewarnaan ulang, kita bisa aplikasiin Beautylabo di bagian-bagian rambut yang masih item/belum rata terus diamkan selama 15 menit. Terakhir, kita ulangi pewarnaan dengan sisa krim yang ada dan diamkan selama 15 menit lagi.
Untuk pembilasannya, kita harus pake air anget yaaa, ini sih saran dari kertas intruksinya. Kalau misalkan udah dibilas pake air anget, baru deh keramas pake shampoo kayak biasa.
Ini dia before after pemakaian produk Beautylabo^^ Maafkan kamera yang kurang memadai ya>< kkk.

Rabu, 14 Desember 2016

An Enemy - Cerpen



An Enemy
Cr: google
“Dasar asin!”
“Dasar lekong!”
“Asin ...!”
 Le¾
Stop!” sergah seseorang. “Kalian ini kenapa, sih? Dari tadi kerjaannya adu mulut terus! Kapan bisa selesainya, coba?” gerutu Mita seraya melempar tatapan tajam ke arahku dan ke arah ... lekong di sampingku.
Aku memajukan bibirku seraya melipat tangan di depan dada. Ya, kami sedang berada di rumah Mita untuk mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia. Dan aku sangat tidak beruntung kali ini. Mengapa? Karena kini aku harus berada dalam kelompok yang sama dengan musuh bebuyutanku.
Lekong! Yup, begitulah aku memanggilnya. Kalian tahu apa arti dari kata tersebut, kan? Dalam kultur daerahku, lekong sering diartikan sebagai anak laki-laki yang memiliki sifat seperti perempuan. Dan kau tahu kenapa aku memanggil anak laki-laki di sampingku dengan sebutan itu? Ya ... karena dia sering bergaul dengan anak-anak gadis. Oh, jangan lupakan juga penampilan ‘rapi’nya setiap datang ke sekolah. Dia benar-benar penerus bangsa yang terlalu ‘disiplin’.
“Habis, ini anak ngajak perang mulu!”
Nah, kan! Yang mulai duluan siapa, yang nyalahin siapa! Aku mendelik ke arah Ahmad yang sedang membenarkan letak kacamatanya. Dia benar-benar seorang culun yang tidak tahu malu! Menyalahkan seseorang atas kesalahannya sendiri? Hell, please!
“Apaan, sih, orang dia yang ngeledek duluan!” belaku tak mau kalah. Mengingat Ahmad adalah musuh bebuyutanku dari TK, tentu saja perang yang sudah berlangsung selama hampir sepuluh tahun ini tidak boleh dimenangkan olehnya.
“Makanya kalau ngerjain tugas itu yang bener! Otak lo disimpen di mana, sih?” seloroh Ahmad bak anak gadis yang sedang kedatangan bulan. Me-nye-bal-kan.
Aku hanya merengut menanggapi perkataannya. Sekilas aku melirik Mita—ia hanya menggelengkan kepala beberapa kali seraya tersenyum kecut.
“Sumpah, ya! Gue kira hidup gue bakal barokah karena gue sekelompok sama anak-anak jenius kayak kalian. Tapi nyatanya apa? Kejeniusan kalian itu kelewatan tahu, gak?” Mita mulai melemparkan amarahnya lagi.
Aku pun kembali memajukan bibirku seraya meraih laptop yang sedari tadi menganggur di antara kami. “Iya, iya ... gue kerjain, gue kerjain ...,” gurauku seraya melanjutkan karya tulis kami yang sempat tertunda.
Kulihat Ahmad sedikit terkekeh saat menyaksikan ‘kekalahanku’ atas amarah Mita. Ya ... apa boleh buat. Kali ini aku harus melupakan sejenak status ‘musuh bebuyutan’ kami. Hanya di depan Mita. Ya ... hanya di depan gadis itu. Selebihnya, aku tidak boleh kalah lagi dari anak laki-laki menyebalkan seperti Ahmad. Tidak boleh! Sampai kapan pun tidak boleh!
***
Jam tanganku menunjukkan pukul lima sore. Aku bisa sedikit menghela napas lega setelah menyelesaikan tugas kelompok kami. Hasilnya, perfect! Bahkan Mita tak melemparkan sorotan tajam lagi setelah membaca ulang hasil kerja keras kami.
Aku pun meraih tas punggung yang tergeletak di teras, mengenakan sepatu, lalu berpamitan kepada Mita untuk pulang. Dan oh, aku melupakan seseorang yang—menurutku—selalu meniru gayaku.
Ahmad! Argh ... kenapa rumahku harus satu arah dengannya? Ralat. Kenapa rumahku harus bersebelahan dengan rumahnya?
“Sin, besok ada PR Kimia, kan?” tanyanya seraya menyamakan langkah denganku.
“Ada,” jawabku cuek.
“Pasti lo gak bisa ngerjain soal nomor delapan! Iya, kan?”
Aku tersentak. Bagaimana ia bisa tahu?
“Hahaha ....” Tiba-tiba Ahmad menggelak tawanya—yang menurutku terdengar menyebalkan.
“Apaan, sih, lo!” bentakku.
“Haha ... lucu aja! Masa ranking satu gak bisa ngerjain soal yang begituan!” ujar Ahmad. Aku tahu, itu adalah sebuah sindiran.
Ya ... harus aku akui, untuk semester ini aku mendapatkan peringkat pertama di kelas. Tapi entah untuk semester selanjutnya. Karena kau tahu kenapa? Ahmad! Dialah satu-satunya ancaman terbesarku dalam meniti karir pendidikkan. Sejak sekolah dasar dulu, posisi peringkat kami selalu berubah-ubah. Terkadang aku mendudukki peringkat pertama, tapi tak lama kemudian posisi itu akan direbut oleh anak laki-laki berkacamata di sampingku ini. Sungguh, perang yang tak akan ada habisnya!
“Lo ngeledek gue?” Aku melemparkan tatapan tajam ke arah Ahmad.
“Ih ... serem ...! Haha!” ujar Ahmad seraya mengambil langkah seribu.
Stop laughing, Ahmad!” bentakku. “Stop there! I will kill you!” Aku pun mengejar anak culun—menyebalkan—itu. Awas saja, aku akan menjadi mimpi buruk bagimu, Ahmad ....
***
Bukalah lembaran baru. Begitulah ucapan orang-orang saat menemukan sebuah kehidupan baru yang lebih cerah di depan mata mereka. Mungkin, aku juga harus mengucapkan kata-kata itu.
Ujian sekolah menengah pertama telah berakhir, dan libur panjang pun telah kulewati dengan suka hati. Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri di sebuah bangunan SMA favorit yang ada di kawasan Banjaran, Bandung.
Masa orientasi telah berlalu ... teman lama pun telah berlalu. Kini yang ada di depanku hanyalah segudang rumus yang akan mengantarkanku menuju kehidupan yang lebih baik; yang selalu aku impikan. Tak ada waktu untuk mengkhawatirkan apa pun. Begitulah prinsipku saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Aku harus belajar. Aku harus berjuang lebih keras lagi. Karena apa? Karena musuh bebuyutanku ... masuk ke sekolah ini. Apakah itu mengejutkan? Tentu saja tidak. Karena yang mengejutkan adalah ... dia berada di kelas yang sama denganku.
Hari-hari kulewati tanpa terlepas dari buku bacaan. Teman-temanku bilang, aku terlalu rajin. Tapi ini untuk masa depanku. Untuk membuktikan bahwa aku bisa mempertahankan posisiku agar tetap menjadi nomor satu. Ambisius? Mungkin. Tapi sekali lagi, ini demi mengalahkan si anak culun berkacamata itu.
Anyway, aku menemukan sebuah keganjilan saat menginjak bangku SMA. Ahmad. Laki-laki itu tak pernah menggangguku lagi. Ia tak pernah mengataiku ‘asin’ lagi. Ia juga tak peduli jika nilai ulangannya lebih rendah satu angka dariku. Bahkan, kami tak pernah pulang bersama lagi. Padahal aku sangat merindukan momen itu. Saat-saat di mana kami beradu argumen di dalam bus, saat di mana kami saling melempar ejekan tiap bertemu di sekolah, saat di mana kami selalu berlomba untuk menjadi ranking satu. Semua itu lenyap dalam seketika. Apakah ia sudah mengaku kalah? Oh ... ayolah! Bahkan perang belum berakhir!
“Mad, gue mau ngomong sama lo!” ujarku seraya menghampiri bangkunya. Aku sudah tak bisa menahan ribuan pertanyaan yang semakin menumpuk di dalam otak ini.
Ahmad melemparkan tatapan bingung ke arahku. Dasar bodoh. Tak bisakah dia berbicara sedikit saja?
“Kenapa lo jadi kayak gini?” tanyaku to the point. Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan basa-basi yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan.
“Maksud lo?” tanya Ahmad. Suara itu berubah menjadi lebih berat dan ... terdengar dewasa?
“Kenapa lo jadi kayak gini, sih? Dulu kita selalu berlomba-lomba buat dapet peringkat pertama. Dulu kita sering ngelempar ejekan satu sama lain. Tapi semenjak masuk SMA, kenapa lo jadi kayak gini?” tanyaku bertubi. Ada sebuah lengkungan heran yang tercipta di dahi Ahmad. “Lo berlagak seakan lo gak kenal sama gue. Kenapa?” Kini nada bicaraku mulai meninggi, membuat beberapa anak yang ada di dalam kelas langsung tenggelam dalam bisikkan-bisikkan.
Ahmad bangkit dari duduknya tanpa melihat ke arahku. “Ikut gue,” ucapnya dingin.
Keningku mengerut. Sangat tidak bisa dipercaya! Kenapa Ahmad bersikap seperti itu?
Aku terus mengikuti langkah lebar Ahmad. Sedikit lelah memang. Tapi rasa penasaran membuatku lupa akan status kami—sebagai musuh—sejenak. Sampai akhirnya, lelaki di depanku menghentikan langkahnya di halaman belakang gedung sekolah.
“Ngapain sih, kita ke sini?” tanyaku sembari mengatur ritme pernapasan.
“Maafin gue, Nis.”
“Hah? Maksud lo?” Alisku bertaut. Kini sepasang mata Ahmad tertuju ke arahku. Tepat ke arahku.
“Gue tahu, gak seharusnya gue ngerasain hal ini. Terutama sama orang jenius kayak lo. Tapi gue juga baru menyadari hal itu.”
“Lo ngomong apaan, sih! Gue gak ngerti, tahu!” ujarku ketus seraya melipat kedua tangan di depan dada.
“Dulu ... selama gue gangguin lo, selama gue jadi musuh lo, entah kenapa gue selalu pengen ngejailin elo, Nis. Gue gak tahu kenapa. Tapi perasaan itu selalu ada. Gue pengen terus ada di deket lo.” Terdengar sebuah helaan lembut dari bibir Ahmad. “Lama-lama, perasaan itu semakin kuat. Gue gak bisa tidur, gue gak bisa belajar, gue gak bisa ngapa-ngapain selain mikirin gimana caranya supaya gue bisa deket terus sama lo. Dan lo tahu apa yang gue dapet?”
Aku menggeleng.
“Gue ... suka sama lo.”
“Apa?” Suaraku tercekat. “Haha, lo jangan bercanda, Mad! Gak lucu, tahu!” ujarku seraya tertawa garing.
“Inilah alasannya kenapa gue ngejauhin elo. Gue gak mau prestasi lo nurun hanya karena hal bodoh ini,” lanjut Ahmad dengan nada serius. “Sekarang, lo udah tahu semuanya, kan? So, can we just go on and forget this stupid conversation?” Sepasang manik kecokelatan di balik kacamata itu menatap lembut ke arahku. Dan dalam detik berikutnya, tubuh ini sudah berada dalam dekapan seseorang. Ralat. Tubuh ini ... mendekap seseorang.
Please, just be my enemy. Jangan jaga jarak dari gue, Mad. Gue gak suka,” lirihku dalam dekapannya. “Lo cuma perlu ngeledek dan bersaing sama gue lagi! Jangan pernah menjauh! Lo satu-satunya orang yang bisa ngertiin gue!”
Kurasakan anggukan kepala Ahmad di pundakku.
Yes. I will be your sweet enemy. Lets study hard and get the top place. I love you ... Asin ....”
Bug!
“Aw ... kenapa lo nonjok perut gue?” ringis Ahmad seraya memegangi perutnya.
“Nama gue Nisa! N-i-s-a! Bukan A-s-i-n! Ngerti? Dasar lekong! Haha ....” Aku berlari meninggalkan Ahmad seraya tertawa puas. Kulihat ia juga berusaha mengejarku seraya mengeluarkan umpatan-umpatan khas perempuannya. Ah ... aku merindukan hal itu. Hidup memang penuh dengan kejutan. Well, berjanjilah untuk tetap menjadi musuhku, Mad. Sampai lulus nanti ....

 FIN

Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang tergabung dalam buku antologi Romantic Story yang diterbitin sama AE Publishing taun kemarin. Thankyou for coming^^ Please leave some critics below gomawo!^^ *bow*
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo