Minggu, 18 Juli 2021

Cerpen : BUNDA

 Tidak pernah terlintas dalam pikiran Ratih, jika merantau ke tanah seberang akan membawanya dalam malapetaka. Niat suci untuk menuntut ilmu dan menjadi kebanggaan warga desa, kini luntur karena sebuah benda kecil di genggamannya.


Dua garis merah. Dan itu cukup untuk menghancurkan hidupnya beberapa tahun ke depan.


"Aku hamil," ucapnya kala itu.


Hanya delikan tajam yang ia dapat sebagai respon. Tak ada simpati sedikit pun di mata kekasihnya. Malah, lelaki pemilik darah campuran itu mendengus sebelum dengan entengnya menjawab, "Nanti gue beliin obat buat aborsi."


Bukan kalimat itu yang Ratih ingin dengar. Sudah cukup ia termakan janji palsu yang diutarakan Dias. Sudah cukup ia terjebak dalam hubungan tak sehat seperti ini. Dan sekarang laki-laki itu malah menyuruh Ratih untuk membunuh bayinya sendiri?


Sudah gila. Tentu saja Ratih menolak. Dosa yang ia tumpuk mungkin sudah melebihi puncak gunung. Dia tidak berniat menambahnya dengan membunuh janinnya sendiri. Jika kekasihnya tidak mau bertanggung jawab, maka jalan satu-satunya adalah menghubungi orangtua Dias.


Namun ia tidak pernah tahu jika penolakan dari sebuah keluarga akan sangat menyakitkan. Orangtua Dias menolaknya mentah-mentah. Dan lelaki itu menjauh, bertindak seolah hubungan di antara mereka tidak pernah terjadi. Beberapa kali Ratih melihatnya menggandeng perempuan baru. Dan ketika Ratih mengamuk, Dias malah mengusirnya bagaikan benalu.


Putus asa, Ratih teringat perkataan Dias. Ia mencoba melenyapkannya. Berolahraga berlebihan, menenggak beberapa botol alkohol, bahkan memakan buah yang mitosnya dapat menggugurkan kandungan. 


Sayangnya, perut Ratih makin membesar. Cibiran dari setiap sudut bisa ia dengar. Makian dari penghuni kost tak bisa dihindari. Bahkan ia mendapat hadiah dari kampus yang menyatakan bahwa ia telah didepak.


Adakah bagian kecil di dunia ini yang masih mau menerima dirinya? Jika tidak, maka lebih baik ia mati saja.


"Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa, aku janji bakal nikahin kamu."


Pembual ulung. Perkataan Dias kala itu masih terngiang di telinganya. Seharusnya ia tidak boleh terjerat dalam rayuan Dias sejak awal. Tapi semuanya sudah terjadi. Dan itu membuat ia semakin frustrasi.


Seutas tali tambang sudah mengalung indah di sekitar lehernya. Sudah diputuskan, ia akan mati hari ini. Kala kakinya hendak menendang satu-satunya tumpuan, tiba-tiba dering ponsel di ruangan itu terdengar.


Dengan berat hati, Ratih turun dari kursi dan menggapai benda itu. Mungkin ia akan menangguhkan waktu kematiannya beberapa menit ke depan. Saat melihat layar ponsel, beberapa pesan dan panggilan tak terjawab muncul di sana. Penasaran, akhirnya ia membuka kotak pesan sambil berurai air mata.



"Nak, Bunda sudah dengar kabar dari salah satu temenmu. Jangan sedih, jangan nangis. Besok Bunda bakal jemput kamu. Jangan mikir aneh-aneh ya, Sayang? Inget, Ratih masih punya Bunda di sini."



Sesak di dada tak terelakkan. Derasnya air mata tak bisa ia sanggah. Diam-diam ia merasa bersyukur karena masih ada orang yang mau menerimanya.


Bunda .... Berkali-kali ia menggumamkan panggilan itu. Sebersit rasa bersalah menyelimuti hati Ratih. Orang yang selama ini tak pernah ia anggap ada, malah menjadi satu-satunya tujuan untuk ia kembali. 


Ratih kembali membaca pesan tersebut untuk kemudian tenggelam dalam tangis.


"Nak, darah kita boleh tidak sama. Tapi sampai kapan pun, kamu akan tetap jadi putri kesayangannya Bunda."




note : cerita ini sempat diikutsertakan dalam kompetisi menulis Koru.

Rabu, 14 Juli 2021

Rekomendasi Film Horor Thailand ft. NICK KUNATIP

 



Gak kerasa banget udah bulan Juli aja. Akhir-akhir ini cuaca sering gak menentu. Banyak yang tiba-tiba kena flu dan penyakit lainnya. Semoga kalian baik-baik aja dan tetap diberi kesehatan yaa^^

Bicara soal film, aku mau sedikit flashback ke beberapa tahun yang lalu ketika movie series ini booming banget. Dulu sampe nge-hype bareng temen dan dibikin ngakak abis. Mau tau film apa aja? Yuk simak sampe bawah!

1.      Make Me Shudder (2013)

Salah satu film Thailand yang mengusung genre horor-komedi ini wajib banget ditonton apa lagi kalau ada acara nobar bareng temen. Meskipun film lama, nyatanya akting para aktor berhasil memikat hati penonton dan membekas sampai sekarang. Bercerita tentang beberapa anak remaja yang gemar memburu kisah-kisah misteri, sampai akhirnya mereka harus terjebak ke masa lalu dan berhadapan dengan hantu guru sekolah. Tiga tokoh utama dalam film ini yaitu, Nick, James, dan Biew.

Untuk hantunya sendiri, dari segi visual itu emang gak diragukan lagi sih ya. Thailand emang terkenal sama hantu-hantunya yang serem. Untuk ceritanya sendiri lebih banyakan komedi menurutku, jadi lumayan bikin ngakak terus.

 

2.      Make Me Shudder (2014)

Ini adalah series kedua dari film Make Me Shudder yang pertama. Tiga tokoh utamanya masih sama. Namun ada penambahan karakter, gengs. Kalau di sini, diceritakan bahwa mereka baru dapet rapor. Dan ada kabar burung, kalau misalnya mereka berdoa ke kuil Mae Nak, maka permintaan mereka akan dikabulkan. Karena anak-anak remaja ini pengen banget lulus, makanya mereka nekat buat berdoa ke sana.

Tapi dasarnya karaker si Nick ini emang sesumbar, akhirnya mereka pun terjebak ke sebuah desa yang di situ ada sosok Mae Nak-nya. Selama berada di sana, para remaja ini diberi tugas oleh Mae Nak untuk mencari sosok suaminya yang bernama Mak di medan perang.

Mak berhasil ditemukan dan bisa kembali kepada Mae Nak beserta bayi mereka. Namun satu persatu misteri mulai terkuak.

Untuk sekuel yang kedua ini, jujur humornya gak terlalu dapet kayak yang pertama. Meskipun para remaja penampilannya harus diubah nyesuain kayak jaman dulu, tapi film pertama lebih kena di hati gue wkwk.

 

3.      Make Me Shudder (2015)

Gimana jadinya kalau film horor dipadukan dengan bencana alam? Rasanya beuh, mantap!

Di film Make Me Shudder yang ketiga ini, Nick, James, Biew dan kawan-kawan yang lain berencana liburan ke pantai Phuket. Nahas, niatnya mau senang-senang tapi malah bertemu dengan tsunami. Mereka terbawa arus dan tenggelam. Tapi ternyata, itu hanyalah mimpinya Nick. Mereka terbangun di sebuah gedung rusak yang sudah terbengkalai. Di tempat itu, mereka menemukan banyak mayat dan puluhan zombie yang mengerikan.

Untuk series yang ketiga ini, jujur gue amaze banget sama apa sih namanya? Visualisasi, ya? Pokoknya pas scene terjadi tsunami itu, gue sampe tahan napas dan langsung inget dosa :( serem banget sih. Di sini juga kelihatan banget gimana tim produksi berusaha keras supaya bikin hasil dari film ini gak mengecewakan. Mereka juga nyewa berapa orang tuh buat jadi zombie? Banyak banget!

Cuman, gue kurang paham sama jalan ceritanya. Jadi ini teori yang bener tuh mereka tersesat dulu baru kena tsunami, atau kena tsunami dan ketemu zombie-zombie itu cuma mimpi? Sampai sekarang gue belum paham wkwk. Untuk endingnya sendiri, plot twist. Ngeselin banget, sedih, tapi pengen ngakak juga wkwkwk.

 

BONUS:

·        Dangerous Boys




Karena Nick Kunatip gak luput dari ketiga film di atas, ada juga nih satu film yang berhasil bikin ngakak! Yup, Dangerous Boys!

Bercerita tentang dua kelompok anak sekolahan yang hobi tawuran. Para pemain di film Make Me Shudder main lagi di film ini. Bedanya, Nick, James, dan Biew yang biasa bareng-bareng dan nempel terus, bakalan jadi rival di Dangerous Boys.

Di sini Nick ganteng banget asli, karismanya juga keluar karena mungkin jalan ceritanya lebih serius. Humornya tetep dapet dan bikin ngakak, terus di sini fokus sama permusuhan dan kisah cinta ala-ala zaman sekolah. Kalau kalian lagi galau dan butuh moodbooster, nonton film ini adalah salah satu obatnya!


Esai : KEBOHONGAN EMANSIPASI

 

Catatan: Esai ini ditulis sekitar tahun 2014/2015.  Untuk mengenang, makanya saya posting di sini. Sebenarnya ini tulisan gatau udah selesai apa belum. Tapi ya mari unggah saja wkwk. Selamat membaca :)

 

Emansipasi. Siapa yang tak mengenal kata tersebut? Banyak masyarakat awam yang mengenal emansipasi sebagai sebuah gerakan untuk memperbaiki bahkan menuntut hak-hak yang seharusnya dimiliki. Namun, banyak pula yang menganggap bahwa emansipasi hanyalah sebuah gerakan “memberontak”. Terutama bagi kaum wanita.

Seperti yang kita ketahui, wanita merupakan makhluk mulia dengan derajat tiga kali lebih tinggi dari pada pria. Wanita juga merupakan insan yang telah melahirkan manusia-manusia lainnya. Hakikat wanita pun sangat sederhana. Melahirkan, menyusui, merawat rumah tangga, sangat sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu semua, penulis yakin bahwa setiap manusia yang memijakkan kaki di bumi ini pasti memiliki mimpi. Begitupun dengan wanita.

Mungkin, mereka terlihat betah duduk di dapur dengan sebaskom beras dan lauk pauknya. Namun, apakah tidak ada dalam diri wanita tersebut sebuah keinginan?

Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa keluarga yang harmonis adalah keluarga yang terdiri dari ayah yang bekerja, ibu rumah tangga yang pintar memasak, dan anak-anak yang pintar. Tetapi apakah teori tersebut masih berlaku ketika salah satu elemen yang ada di dalamnya rusak?

Sebagai contoh, ketika seorang ayah tidak bekerja, apakah ibu masih bisa memasak? Apakah anak-anak masih bisa mengenyam bangku pendidikan demi mendapat gelar pintar?

Jawabannya, tidak. Ketika sebuah komponen rusak, maka komponen yang lain pun akan terusik, atau bahkan mungkin ikut rusak. Saat hal kritis ini terjadi, sudah sepatutnya bukan bagi seorang wanita untuk bangkit dan memperbaiki dinding yang rusak itu? Namun sekeras apa pun wanita mencoba, secerdas apa pun dia, jika tidak didukung dari belakang maka semua itu akan berakhir sia-sia.

Di sinilah peran keluarga dibutuhkan. Saat istri, atau bahkan anak gadis Anda memiliki cita-cita, dukunglah ia, berilah motivasi sehingga cita-cita itu bisa digapai tanpa adanya penyesalan. Jangan mengekang wanita dengan dalih “Pekerjaan ini untuk laki-laki”. Padahal jika dikerjakan oleh kaum perempuan pun tidak akan ada bedanya. Terlalu mengelompokkan sesuatu, kemungkinan hanya akan berujung kepada perseteruan.

Maka dari itu, mari bersama-sama mewujudkan emansipasi itu. Bukan hanya untuk meningkatkan derajat wanita, tapi juga untuk menjadikan wanita sebagai pribadi serba bisa dan dapat diandalkan. Jangan menjadikan embel-embel emansipasi hanya kebohongan belaka. Jika zaman bisa berubah, maka emansipasi pun harus semakin berkembang.

Selasa, 29 Juni 2021

Puisi BINTANG

 

 Bintang

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Senyap. Itulah aku

Dingin. Begitulah rasaku

Hening. Demikianlah keadaanku..

Bentangan asa begitu menggebu dalam jiwa

Menyiratkan rasa, bersenandung sya’ir cinta

Jiwa kosong tanpa cahaya

Haruskah aku tenggelam di dalamnya?


Bintang, tak bisakah kau temani malam kali ini?

Tak bisakah kau hadir meski hanya sekadar bertegur sapa?

Aku sendiri... Meringkuk dalam hening, terbaring dalam gelap


Bintang, taburilah aku dengan sejuta cahaya kasihmu

Agar aku merasa ramai... Agar aku merasa hangat


Bintang, izinkan aku untuk merindumu

Izinkan aku untuk mengharap hadirmu

Bintang itu kamu... Malam itu aku...

Dan bentangan asa ini, adalah sebuah kerinduan



Garut, 06 Maret 2015

Puisi MULUT-MULUT JELATA

 

MULUT-MULUT JELATA

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Apa?

Lihat apa?

Sorotmu tajam

Mengulitiku, hakimi semaumu


Resahku, gundahku, lelahku...

Tak pernah sebesar biji zarrah pun kau tahu

Peluhku, semangatku...

Tak pernah sedikit pun kau tahu


Tak peduli, bibirmu kecut!

Amarahku melaut!

Mulut-mulut jelata yang senantiasa kudengar

Benih-benih benci yang tiap hari kau tebarkan

Remuk!

Aku remuk!

Patah sudah semangat hidup yang telah kupupuk!

Karenamu! Mulut-mulut tak bertulang rusuk

 


Bandung, 25 Juli 2018

Puisi O!

 

O

Oleh: Annisa Febriyati Sari


O ...! O ...! O ...!

Tolong ....

O ...! O ...!


Langit ikut menangis

Kala seorang miskin berteriak

Menjerit di antara manusia

Namun, tak satu pun yang membuka.


O ...! O ...!

Terpejam, seakan buta

Menutup telinga, seakan tuli.

Tolong ..., O ...!

Tak sudikah sekiranya berbagi,

Mengulurkan urat nadi,

Untuk si miskin ... untuk selamatkan buah hati.

                                                                                                               Garut, 22 Januari 2016

Puisi Amarah

 

Amarah

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Lancang!

Hanya berani bermain punggung

Menghujam rusuk, tanamkan ngilu.


            Kejam!

            Hanya berani bergerombol

            Tak pernah mau, satu lawan satu.


Kau lontar bermacam cibiran

Kau tusuk aku dari belakang

Sirami aku dengan cairan tawa

Puaskah engkau, melihatku terhina?


Ingin aku membalas

Bukan belati, tapi sebuah hunusan pedang


            Tuk mencabik ruang udara itu

            Menusuk jantung, merobek hati


Berharap setitik belas kasih .... masih terpendam di dalam sana.

                                                                                                               

Garut, 22 Januari 2016

Puisi Jahannam

 

Jahannam

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Ada suara gaduh di serambi depan

Menjerit, melambungkan beban-beban

Mengoyak naungan yang tinggal papan

Api menyulut, hendak menyalahkan Tuhan.

            

Puluhan suara menjelma seribu gema

Memekik asa, menyudutkan jiwa

Hinggapkan rasa takut yang tak terkira,

saat mereka mencela, “Dasar wanita hina!”


Jahannam! Jahannam! Jahannam!

Remuk aku kala mendengarnya

Jahannam! Jahannam! Jahannam!

Ingin rasanya mati kala itu juga.

            

Semakin larut semakin meluap pula

Amarah-amarah, rasa benci

Seenak melempar dengan batu kali

Mencaci maki, karena kujual harga diri.


                                                                                                               Garut, 22 Januari 2016

Puisi Rindu

 

Rindu

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Senja berganti, bertahta malam

Embuskan angin kerinduan

Terpakan helai-helai hati

Menggelitik, menuntut pasti.


Awan berarak, menggumpal dalam gelap

Dentumkan suara-suara qalbu,

menuntut kasih dari Sang Penebar Rindu.


Senja kemarin, kita masih di sini

Duduk berdampingan, saling menggenggam tangan,

menjaga perasaan.

            

Senja hari ini, aku masih tetap di sini

Duduk sendirian, menggenggam batu nisan,

Lirihkan do’a, berusaha tegar ... menebar senyuman.

                                                                                                               Garut, 22 Januari 2016

Puisi Ramadhan Kala Itu

 

Ramadhan Kala Itu

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Januari,

Gerimis berderai membasahi bumi

Hapuskan tapak-tapak luka

Lenyapkan bekas-bekas lara.

Tak terasa, sudah berapa lama aku bersembunyi?

Berlari dari mimpi buruk yang selalu saja menghantui

Kejam.


Januari,

Haruskah aku terpuruk seperti ini?

Tersungkur dalam belukar masa lalu

Berharap semua kembali, seperti dulu.


Ingatkah kau ... ramadhan kala itu?

Saat kolak masih terasa manis,

saat pisang goreng terlihat menggiurkan,

saat semua berkumpul menunggu kumandang adzan,

aku bertanya ... ingatkah kau?


Tak ada canda, aku tak apa

Tak ada tawa, aku baik-baik saja

Tak ada shalat berjamaah, aku masih bisa munfarid

Namun jika tak ada Ayah, masihkah aku baik-baik saja?


                                                                                                               Garut, 22 Januari 2016

Puisi FANA

 

FANA

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Tersedot kami dalam buai

Terlena akan fana

Lupa akan Sang Kuasa

Berdiri angkuh, di tengah megah dunia


Kami lalai... karena acuh akan ayat-Mu

Kami terkurung... terperangkap dalam zaman,

dengan ego yang menjalar,

dengan dagu yang tengadah


Yaa Rabbi, angkuh kah aku yang ingin terus berpijak di bumi-Mu?

Angkuh kah aku yang terus menggerus kekayaan alam-Mu?

Angkuh kah aku, Yaa Rabbi? Angkuh kah?

Hingga aku enggan, untuk meninggalkan mewah dunia


Perlahan jiwa-jiwa mulai mati

Teringat aku akan nafsu birahi

Menggerus habis kekayaan dunia, dan lupa bersyukur atas nikmat-Nya


Kini, jiwaku menciut

Hartaku mengerut

Ragaku beringsut

Malu! Aku tersungkur!

Diri terhina... dalam buaian fana



Garut, 19 Januari 2016

Puisi MENGAPA?

 

MENGAPA?

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Kidung cinta, lautan kasih...

Dekapan lembut sang Maha Asmara

Membekas asa, mencipta raga


Dua puluh empat jam! Kidung itu masih terasa

Tiga puluh hari! Selimut kasih begitu hangat membalut asa

Sembilan puluh hari! Seolah hanya cinta yang ada

Namun, seratus dua puluh hari! Mengapa, kau membuangnya?


Hangat kasih tak kurasa lagi

Serpihan luka, buatku perih

Bendungan cinta bobol oleh suka

Di matamu, apakah aku hina?


Lakukan, lakukan, lakukan!

Tersayat aku saat mendengarnya

Singkirkan, singkirkan, singkirkan!

Begitu rendah kah arti kehidupan?


Kau cipta aku dalam mahligai cinta

Arungi bahtera kasih, tak peduli pasang purnama

Aku hidup dalam ruang sempit penuh dosa

Seratus dua puluh hari!

Mengapa Ibu, kau bunuh aku begitu saja?



Garut, 19 Januari 2016

Puisi LUPA

 

LUPA

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Saat raga tak tahu arah, jiwa mengerut

Tapaki ranjau-ranjau surut

Aku ... terenggut


Raga terkikis oleh dahaga

Terpuruk dalam tirai-tirai dosa

Tersudut dalam bayang-bayang hina

Haruskah kutunggu Izrail tiba?


Kau rengkuh aku dengan kasih

Balut aku dengan cinta

Bodoh! Hati malah bertanya

Apakah Engkau ... nyata?


Tuhan, Rabbi, Illahi ... sebutan apa itu?

Illah, Ghofur, Al-Mulk ... siapakah diri-Mu?

Apakah itu semacam gelar?

Ataukah panggilan semu semata?


Gema suara itu selalu memekakkan

Pagi, siang, sore, bahkan malam

Meraung-raung di dalam kepala

Seakan memanggil, mengajak bercengkrama


Bodoh! Dengan siapa pula aku harus bercengkrama?

Dengan siapa pula aku harus memenuhi panggilan?

Apakah dengan suara-suara itu?

Apakah dengan suara yang menyakiti telinga itu?

 

Arghh ...! Mengapa pula aku berteriak?

Mengapa pula aku menangis?

Tengoklah! Mulut-mulut itu terlalu kejam!

Sorot mata itu terlalu tajam!

Menghakimi yang lain seakan paling benar

Lalu berkata, “Untukmu, Jahannam!”


Sial! Sebutan apa lagi itu?

Apakah itu merupakan sebuah berlian?

Ataukah emas putih yang berkilauan?


Pergilah kau ke neraka! Pergilah wahai pendosa!


Tidak ...! Tidak ...!

Aku tak tahu apa itu neraka, pun tak mengerti akan pendosa

Aku tak tahu apa itu Jahannam! Aku tak tahu, sungguh tak tahu!


Sial! Beginikah cara-Mu menghukumku?

Membuatku lupa akan diri-Mu?

Tuhaaaaan ....

Masih pantaskah kujeritkan kata itu

Sedangkan ku telah lupa siapa diri-Mu?



Garut, 19 Januari 2016

Puisi Waktu

 Waktu

Oleh: Annisa Febriyati Sari


Detik ini, aku masih bisa melihatmu

Menit ini, aku masih bisa menatapmu

Jam ini, aku masih bisa bersamamu

Dan hari ini, aku masih berada di pangkuanmu


Tapi... itu untuk saat ini!

Bagaimana dengan detik berikutnya,

Menit berikutnya,

Jam berikutnya,

Serta hari berikutnya?

Akankah aku masih bisa bersamamu?


Gulir canda tawa...

Rangkaian sebuah cerita...

Akankah aku masih bisa mendengarnya?

Nasihat itu...

Kata-kata cerewet itu...

Masihkah aku bisa mendengarnya?


Beribu peluh telah kau kucurkan

Demi aku... demi membuatku hidup dalam kemahligaian

Beribu cara telah kau lakukan

Demi aku... demi membuatku hidup dalam kebahagiaan


Tapi... apa yang telah ku lakukan?

Apa yang telah ku korbankan demi engkau?

Tak ada cara, tak ada peluh...

Maafkan aku, Ibu

Karena aku tak pernah bisa membalas pengorbananmu

 

Garut, 2015

 

Puisi Bukan Salah Qalbu

 Bukan Salah Qalbu

Oleh: Annisa F.S


Deg! Jantungku bergetar

Deg! Deg! Ritmenya beralih cepat

Deg! Deg! Deg! Yaa Rabbii... Apa yang kurasa ini?


Kutatap sosok itu... biasa saja!

Tak ada yang istimewa

Kutatap sekali lagi...

Deg! Tak biasa... Jantungku berpacu kencang

Wahai Allah... tolonglah qalbu yang dirundung rindu ini...

Dapatkah Kau hentikan detakan ini sejenak? Hanya untuk membuat qalbuku menjadi normal kembali?


Duhai Rabbii...

Munafik! Dusta! Tak bisakah Kau buat aku menjadi begitu?

Gejolak rindu ini mendidih...

Siluet indah makhluk-Mu selalu terbawa mimpi...

Tatapnya, senyumnya, kearifannya...


Duhai Rabbi...

Aku tak bisa munafik!

Dzikirku tergerus...!

Imanku aus...!

Shalat malamku pupus..! Karena dia...

Dia... makhluk pemikat qalbu

Salahkah aku mencintanya?

Sarat hatiku akan cintanya

Tapi mengapa tidak dengan cinta-Mu?

Yaa Rabbi... Faghfirlii...



Garut, 06 Februari 2015

 

 

Sabtu, 26 Juni 2021

Cerita Pendek REUNI

 


Sakit kepala menyerang begitu hebat. Beberapa botol minuman terjatuh dan pecah. Aku hampir terpeleset dari tangga.


"Sialan. Seharusnya aku tidak boleh mabuk!"


Dengan dua botol yang tersisa dalam dekapan, aku berjalan menuju anak tangga terakhir. Melangkahkan kaki lebih lebar, untuk menghindari pecahan kaca dari botol minuman yang jatuh tadi.


Namun, keributan di ruang tengah mengejutkanku.


Alen, Vero, Zefa, dan Jovan tengah berteriak histeris seperti orang gila. Raut ketakutan begitu jelas pada wajah mereka. Sementara Raiga sudah tergeletak di sana.


Tak lama, Vero dan Zefa menjerit kala Alen mengarahkan gergaji mesin ke kakinya sendiri. Seiringan dengan bunyi putaran gerigi dan patahan tulang yang berpadu, darah segar menyembur ke mana-mana.


"TIDAK! ALENNN, TIDAK!!!" Vero menangis. Memeluk tubuh kekasihnya yang kini tak lagi bernyawa.


Sementara Jovan beringsut mundur. Ia melemparkan sebuah balok kayu kecil dari genggamannya. Dalam hitungan mili detik, ia memecahkan botol minuman kemudian menusukkan benda itu tepat ke perut Zefa.


Vero histeris lagi. Ia menjambak rambutnya lalu beringsut dari sana.


"Vero, sekarang giliranmu. Apa yang kau dapat?"


Aku bisa mendengar Jovan berkata lirih.


Vero mengeluarkan balok kayu lain dari dalam saku celananya. Lalu ia berkata, "Aku ... harus membunuhmu, Jovan."


Jovan mendadak murka. Pemuda itu hendak menyerang Vero dengan pecahan botol yang sama. Tapi gadis itu menghindar. Menendang Jovan dengan kakinya, kemudian meraih gergaji yang tergeletak di lantai.


Sebuah pemandangan paling mengerikan yang kulihat saat ini adalah, Vero memenggal kepala Jovan dengan gergaji mesin di tangannya. Beberapa saat kemudian gadis itu menjerit, melemparkan gergaji mesin itu ke sembarang arah.


Vero terengah. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan darah. Kala ia menyadari kehadiranku, ia berjalan mendekat.


"Zoya? Kau telah merencanakan semua ini, bukan?" 


Aku menggelengkan kepala dengan panik. Aku tidak mengerti! 6


Belum sempat Vero menggapai tubuhku, mendadak ia terbatuk. Napasnya tercekat seperti ringkikan kuda. Tak lama, darah menyembur dari mulutnya. Vero ... tiba-tiba terkulai tak berdaya.


Jantungku berdegup cepat. Aku berjalan menghampiri tubuh teman-temanku yang kini tak bergerak. Botol minuman alkohol yang tadi kudekap kini sudah menggelinding di bawah sana. Karpet bulu putih yang sedari tadi jadi tempat bercengkerama, kini penuh dengan genangan darah. 7


Aku meraih satu per satu balok kayu yang ada di sekitar mereka.


Balok kayu milik Raiga memiliki tulisan, "Bercintalah dengan kekasih temanmu. Jika tidak, kau akan segera mati." 


Dan tubuh Raiga tergeletak dengan busa yang memenuhi mulutnya.


Pada kayu balok milik Alen tertulis, "Ambil gergaji di samping perapian dan potonglah kakimu sendiri. Jika tidak, kekasihmu akan mati." 8


Perintah pada kayu balok milik Jovan berbunyi, "Bunuh Zefa. Atau nyawamu melayang sebentar lagi."


Sedangkan pada balok kayu milik Vero tertulis, "Bunuhlah Jovan. Atau hidupmu akan berakhir dalam 5 menit."


Dan terakhir, balok kayu milik Zefa. "Ambil pisau cutter di atas meja, lalu sayat lehermu sendiri di depan mereka." 9


Tangisku luruh. Dan balok kayu itu jatuh. Kini tanganku bergerak ke dalam saku celana, meraih benda yang sama seperti milik mereka.


Di sana terdapat tulisan, "Bersihkan kekacauan."


Seketika aku menyeringai. Kemudian meregangkan tanganku sambil menghirup bau darah yang memenuhi ruangan.


"Hhh ... sayang sekali Zefa belum melakukan tantangan miliknya. Senang bertemu dengan kalian, teman-teman. Ini adalah pesta reuni pertama yang saaangat menyenangkan! Hihi."



 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo